Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Sunday, August 24, 2008

Lari Gembira
















Race Against Cancer Everyone, R.A.C.E. Adalah Fun Run yang diadakan untuk oleh yayasan Kanker Indonesia minggu 24/08/08 kemarin. Not that fun actually, running for 10K with lame breathless stamina is obviously not something fun. Berawal dari reflek gue sebagai orang Indonesia yang selalu ngambil paling gede setiap ada gratisan, gue pun memilih option 10K pas ngisi formulir gratisan Jakarta R.A.C.E di kantor. Tahulah tabiat setiap ada gratisan, suka gak suka perlu gak perlu yang penting dihajar dulu, begitupun ketika bimbang memilih 10K apa 5K ya. 10 lebih besar dari 5. Akhirnya gue pun melingkari 10K.

Pas hari H, barulah timbul rasa penyesalan. 10K untuk badan setua om ini adalah keputusan yang bodoh. Tapi panitia udah terlanjur gak ngebolehin menukar jarak lari pada hari H. Wedhus. 10K dari Four Season menyusuri Sudirman ke arah bundaran Senayan terus putar balik ke arah bundaran HI, putar balik kembali ke arah Four Season. 1K pertama sih masih gagah berani, masih banyak tukang poto, lari dengan memasang ekspresi seserius dan sejantan mungkin. Ayunan lengan mantap sok iye. Siapa tau ketangkep camera candid untuk majalah kantor. Selepas Semanggi baru deh mulai ngos-ngosan nyari oksigen berasa di Mars lalu memutuskan jalan 10 menit kemudian.

Sebelum akhirnya ada cewek lumayan berbodi geboy nyalip gue. Tipikal putih, hotpants, badan sekel, pake kaca muka, topi dan rambut dibuntut kuda. Kaca muka itu sebenarnya bikin mukanya gak begitu jelas tapi justru bagus. Gue jadi tetap penasaran dan gak mau terpaut jauh sama doi (yak bahasa ‘doi’ hadir saja disini). Dan gue sengaja gak nyalip-nyalip perempuan itu untuk menjaga rasa penasaran gue. Karena gue percaya fenomena D.B.S.M.K.D.D.L.K.M.G : dari belakang sih masa kini dari depan lho kok masa gitu. Lagipula dari belakang pemandangannya jauh lebih bagus, mentul-mentul nice to see. Setiap kali dia mulai lari gue pasti juga memaksakan diri untuk lari. Kalau dia isitrahat dan jalan gue pun akan ikut jalan. Hanya masalahnya itu cewek cepet aja masa recovery-nya, hanya beberapa menit dan dia udah kuat untuk lagi lari yang dengan terpaksa gue pun kepontal-pontal ikutan lari pula. Bangke, ini cewek kuat aja napasnya. Wew dahsyat pastinya.

Gak kerasa Semanggi, Bundaran Senayan, Semanggi lagi, Bundaran HI dan finish kembali di Four Season. Untung ada perempuan itu jadi cambuk gue untuk push my limit for keep running. Pesan moral : ketika kita merasa tidak mampu akan suatu hal, jangan mudah menyerah dan carilah hal-hal yang bisa membangkitkan semangat anda. Nice.

Labels:

Sunday, August 17, 2008

Filosofis Cara Pipis

Dari cara orang memilih urinoir bisa menggambarkan kepribadian seseorang. Coba lihat tiga urinoir pada gambar di atas, toilet kantor gue. Teori gue yang akan gue paparkan berikut ini juga bisa diterapkan di semua urinoir di mana saja, tidak harus serupa berjumlah tiga, selama ada lebih dari dua.



Jika memilih urinoir yang di tengah tandanya orang tersebut memiliki ukuran yang lumayan tidak memalukan harkat dan martabat, dia merasa tak perlu lah sembunyi-sembunyi memilih urinoir yang di pinggir. Jenis orang yang percaya diri karena memang mampu. Tetapi bisa juga karena hal lainnya. Kecil sekalipun, orang tersebut merasa ukurannya sudah lumayan. Habis dia tidak punya knowledge perbandingan yang disebabkan belum pernah menonton film-film dewasa sekalipun sepanjang hidupnya. Jadi ada kemungkinan orang yang memilih urinoir di tengah adalah orang yang saleh : tidak ada rasa minder meskipun kecil dikarenakan pengetahuan film-film dewasa yang sangat minim, selalu merasa puas dan bersyukur. Bagus.

Orang yang memilih urinoir yang di sebelah kanan hampir bisa dipastikannya ukurannya kecil, jadi dia sengaja betul memilih urinoir yang mojok untuk menjamin aman tak akan terlihat sedikitpun. Atau bisa juga tipe orang yang parnoan, panikan dan tidak bisa berpikiran logis. Tidak bisa berpikir logis karena orang ini karena terlalu seringnya menonton film-film dewasa sehingga dalam bayangannya Peter North itu adalah ukuran orang kebanyakan dan standard. Mesaake, nganti ngekek dia merasa begitu tidak berarti ketika referensi yang dipakai adalah para professional di film-film dewasa. Orang yang melilih urinoir paling kanan bisa jadi tidak begitu saleh karena sangat gemar menonton film-film dewasa, efek sampingnya membuat dia begitu parno dan minder sendiri.

Yang paling cerdik dan berpengetahuan luas adalah orang-orang yang memilih urinoir paling kiri dekat pintu masuk. Orang ini sadar diri ukurannya tidak begitu bisa dibanggakan tapi dia ingin menutupinya secara halus. Dengan memilih urinoir paling kanan akan too obvious been trying hide it out karena itu dia pilih yang paling kiri : lumayan tertutup dan bisa bersapa akrab dengan orang-orang yang baru masuk supaya terlihat rileks tidak tampak sedang berusaha keras menutupi kekurangannya. Orang semacam ini juga moderat karena dia menyadari ukuran di film-film dewasa adalah ukuran professional so don’t be so sad cause mine is ain’t too bad, just a few inches to go. Tipe orang yang tidak kuper berpengetahuan luas dan paling tahu cara yang halus supel untuk menutupi kekurangannya.

Tapi diantara semua itu ada lagi yang lebih-lebih lagi, orang yang gak mau pake urionoir dan memilih masuk ke bilik toilet hanya untuk pipis. Ini tipe orang yang ekstrim dan perfeksionis. Dia yakin betul ukurannya quite phatetic dan dia ingin memastikan tidak akan orang yang mergokin. Urinoir tidak begitu aman, masih ada celah-celah untuk ketahuan. Bilik toilet satu-satunya pilihan. Perfeksionis karena ingin memastikan tidak ada chance kepergok dengan selalu pipis di bilik toilet. Tipe orang ini adalah tipe orang yang pengecut, sudahlah kecil gak mau ngaku, dan mereka juga selalu sangat rapi dalam hal tutup menutupi kekurangan semodel begini. Dengan kata lain tipe wakil rakyat, si Al Amin, si Max Moein atau si Yahya Zaini salah sedikit contohnya, anggota sekaligus pengurus tetap les titit petite united.

Nah, urinoir mana pilihan mu ?

Labels:

Thursday, June 19, 2008

Senjata di Wayang

Salah satu keinginan gue sebelum mati adalah menyaksikan sinema Indonesia yang sudah sekelas Hollywood saat ini. Gue berharap-harap ada produser yang capable memindahkan kisah wayang ke sinema ala Lord of the Ring. Memindahkan disini bukan hanya membuat efek yang canggih tapi juga menggubahnya sehingga Wayang menarik untuk ditonton. Seperti Peter Jackson yang sukses membuat orang mencintai LOTR, novel jadul yang mendadak jadi buku wajib anak-anak masa kini dengan perkataan khas : “lo harus baca novelnya, beda banget sama filmnya, gak ada apa-apa deh”, padahal mereka juga baru membeli novel setelah menonton LOTR. Poin gue : begitu hebatnya Jackson membawa LOTR ke layar sehingga orang euphoria gak malu dan bahkan bangga kalau menjadi yang paling tahu detail LOTR. Suatu hal yang jelas gak pernah ada sebelum LOTR di filmkan. Padahal LOTR sudah ada puluhan tahun lalu. Wayang seharusnya juga bisa seperti itu suatu saat nanti. Semoga.

  • Kunta®, senjata andalan Adipati Karna ada di rambut belakang telinga yang secara ajaib begitu diambil langsung berubah menjadi anak panah yang panjang dengan ujung yang sedikit melengkung. Kunta ini layaknya peluru kendali, meski tidak secepat Cakra® tapi sekalinya dibidik niscaya orang tersebut tidak akan bisa menghindarkan diri, akan selalu dikejar. Gatotkaca adalah salah satu korban dari Kunta ini.
  • Kemampuan Kunta ini mirip betul dengan Pasopati®, anak panah Arjuna. Masuk akal kalau serupa karena mereka sama-sama expert di ilmu memanah dunia wayang, nyaris sejajar dan tanpa tanding. Karna adalah murid tidak resmi Begawan Durna, yang begitu jeniusnya bahkan cukup dengan mencuri lihat pelajaran Pandawa Kurawa dia bisa sama sakti dengan Arjuna.
  • Untuk kelas tangan kosong, Brajamusti® di tangan kanan Raden Gatotkaca adalah yang terhebat. Setiap kali mengantam dengan pukulan Brajamusti ini maka akan keluar sosok raksasa yang akan memukul musuh berkali-kali yang akan segera kembali masuk ke tangan kanan Gatotkaca. Seperti game Fatal Fury jaman Sega dulu, kombo 15 maka Brajamusti ini kombo 80, 80 pukulan sekaligus langsung masuk tanpa terputus dalam satu kali serangan. Nama Brajamusti sebenarnya adalah paman gatotkaca yang ketika mati tubuhnya tersedot masuk ke tangan kanan Gatotkaca. Itu sebabnya sosok raksasa dan suara menggelegar selalu muncul setiap kali Gatotkaca memukul memakai tangan kanan.
  • Setyaki menyimpan Gada Wesikuning® di lengan kanannya. Dengan kata lain gada kecil yang terang bersinar keemasan itu selalu dibawanya kemanapun dia pergi tanpa harus mencolok menarik perhatian, menjadi satu dengan lengan kanannya. Setiap kali terancam maka Setyaki akan segera mengambil Gada Wesikuning sakti itu. Karena Setyaki terlalu cukup sakti hanya untuk selalu bergantung kepada Gada Wesikuning, Setyaki salah satu ahli tangan kosong. Gada Wesikuning itu sekadar senjata pamungkas.
  • Lain lagi dengan Kresna. Senjata Cakra® andalannya itu selalu muncul setiap kali beliau menyatukan kedua tapak tangannya dalam posisi horizontal dengan menyisakan sedikit ruang. Jika Kunta yang seperti peluru kendali maka Cakra tidak perlu memiliki kemampuan seperti itu karena saking cepatnya. Cakra begitu cepatnya bahkan musuh pun tidak akan pernah bisa melihat bentuk Cakra seperti apa karena tidak sampai sedetik Kresna mengatupkan tangan, leher musuh sudah putus tanpa sempat menyadari apa yang terjadi.
  • Tapi tak ada yang lebih mengerikan selain Candrabirawa® Prabu Salya, ilmu ini akan secara reflek keluar setiap kali nyawa dia terancam. Dari tubuh Salya akan keluar makhluk raksasa yang gerakannya secepat kilat. Tapi bukan itu yang paling penting, raksasa ini sama sekali tidak bisa dibunuh, setiap kali ditebas akan menjadi dua, dibelah tiga akan menjadi enam. Bima yang pernah memukul dengan gada andalannya justru makin memperburuk keadaan, karena tubuh raksasa Candrabirawa yang hancur berkeping-keping justru memperbanyak jumlahnya sekaligus. Begitu hebatnya ilmu ini, hanya pernah dikeluarkan dua kali. Yang pertama ketika baru diturunkan dan kedua ketika menghadapi Pandawa di Kurusetra.
  • Meski tidak mempunyai ajian dahsyat tapi Raden Sitija tidak akan pernah bisa mati. Ok, dia bisa saja mati pada awalnya tetapi begitu jatuh menyentuh bumi maka akan segera hidup kembali. Namanya ajiannya Panasonabumi®. Konon Gatotkaca nyaris putus ada ketika beradu duel melawan Sitija. Seandainya saja Sri Kresna tidak emosional gelap mata (putranya, Raden Samba mati dibunuh Raden Sitija) ikut campur dengan menebas Cakra membelah Sitija yang segera ditangkap Gatotkaca sebelum sempat menyentuh bumi.
  • Still a lot more to tell.

Percayalah, wayang itu sangat menarik kisahnya. Ceritanya paralel, setiap tokoh ada dedicated story sendiri-sendiri yang terkadang bersinggungan satu sama lain. Hampir semua tokoh adalaha abu-abu, dan bahkan para Dewa. Tokoh A jadi bintang utama untuk kisah dia tapi lain waktu dia hanya akan jadi cameo untuk kisah B. Seperti Marvel, DC, ada masa para superheroes joined up dan di lain waktu musuhan. Bahkan kisah klasik 1001 malam pun kalah jauh. Lalu dengan begitu banyaknya kisah untuk diangkat dan menarik kenapa para Indihe basudara nista laknat itu hanya membuat film hantu (yang tampaknya sudah mulai keabisan bahan, segala macam jenis setan udah nongol akhirnya dibikinlah spin pocong sekolah, pocong perawan, kuntilanak sekretaris, kuntilanak mbak-mbak toko, suster ngesot, suster ngesot RSCM, suster setengah ngesot, suster guling-guling, what else ? you name it !) atau gak film seks kosong yang hanya bombastis di judul dan tema (gue bukan FPI yang menolak film seks tapi plis demi Tuhan tolong jangan kentang nanggung dong, sekalian softporn ! it will be great if we could go to the movie and watching naked Happy Salma, nipling Aura Kasih, petting Rebeca. Ok, will be much better if they do some **ck) atau gak film-film teen jiplakan Hollywood yang selalu sangat dipaksakan. Let support our local stories. Now !


Labels:

Sunday, April 27, 2008

Tentang Sekolah

Masa sekolah gue adalah tentang invisible, mungkin sampai sekarang. Nobody knows me but I know everybody, kasihan ya ? Lagian dulu siapa juga yang mau berkawan dengan anak kerempeng begeng, gigi gede-gede, kepala gede, ingusan never-ending meler, garing, pendiam, culun, tak bisa berolahraga, tak pandai bermain gundu, looser kalo adu gangsingan, meski lumayan jago sih kalo mainan karet dan paling kenceng larinya kalo ngejar layangan. Gue kecil juga tentang freak, kerjanya baca, setiap kali ke rumah orang selalu bertanya ada bacaan apa, mulai dari baca Ensiklopedi, baca Koran, baca iklan, baca Smurf, Steven Sterk, Johan Pirlout, si Bob Napi Badung sampai Alferd Hitchcock, Enid Blyton, baca Sejarah Eropa, baca apa saja : lumayan freak untuk ukuran anak SD yang seharusnya sehat bugar beraktifitas di luar daripada meringkuk di kamar tak punya teman asik sendiri baca. Tapi sayangnya justru ketika masa-masa dimana membutuhkan kemampuan baca yang kuat gue justru anti sama text book, bisa mendadak mual-mual liat text book. Membeli text book di Palasari hanya sebatas supaya kamar gue tampak seperti kamar Mahasiswa teknik Informatika sejati. Dengan adanya buku programming tebal-tebal berwarna-warni berderet di rak lumayan bikin Mak gue percaya kalau gue benar-benar kuliah di Bandung, bukan main game (kadang buku-buku tebal membosankan itu suka gue injek-injek, tekuk-tekuk biar kucel pertanda sering dibaca).

Juga tentang wanita. Pertama kali ngobrol sama wanita adalah kelas 2 SMA. Shinta Maharani. Dan dia begitu kagetnya pas tau gue gak pernah sekalipun berbincang-bincang dengan wanita sebelumnya yang artinya itu udah selama 16 tahun. Sejak itu dia rajin nelepon ngajarin gue cara ngobrol sama cewek, apa-apa aja yang bisa nyelekit, nyolot, bahwa ketika berbicara sama cewek dan cowok itu sedikit banyak harus dibedakan. Karena cewek itu makhluk yang suka gak penting. Pertama kali naksir cewek juga kelas 3 SMA. Naksir mampus. Tapi gak bisa ngedeketin, sama sekali gak tau cara yang paling masuk akal untuk memulai “hai, gue Idep. Anak baru ya ? 1.6 ? gimana pelajaran Fisika semester ini ? sesusah Kimia gak ? jangan sedih karena ketika SMP emang belum ada sih ya. Dan itu cukup sukses membuat cewek itu selalu belok menghindar, parno ketakutan semacam melihat orang sakit saiko setiap lihat gue dari kejauhan. Ketika gagal pada percobaan pertama, dengan dukungan penasihat spiritual, gue mencoba melalui telepon. Tapi sama amatirnya dan lebih bodoh, karena gue tidak pernah menelepon wanita seumur-umur. Karena itu gue selalu bikin semacam perkiraan dialog yang akan terjadi nantinya, kayak naskah drama di buku pelajaran bahasa Indonesia itu. Perkiraan dialog dia dan gue. Dengan kata lain nelpon make contekan. Berikut ini contohnya, kalimat yang dicetak italic tebal adalah perkiraan dialog yang gue rancang, yang seharusnya bagaimana dia merespon. Sedang yang dalam bentuk font biasa adalah respon dia sesungguhnya yang diluar plan dan membuat gue panik sehingga respon gue pun jadi ikutan tidak menentu tidak sesuai plan.










Mulai dari sini keadaan semakin tidak terkontrol karena seharusnya dia mengikuti alur yang sudah gue buat bukan dengan selalu balik bertanya. Dialog makin tidak sesuai dengan perkiraan dan gue makin speechless bingung mau ngemeng apa lagi. Belum terlatih.






Jadi no wonder, gue tetep perjaka tong-tong selama masa sekolah. Masa dimana prom night adalah tentang adu canggih-canggihan pasangan andalan. Masa dimana serunya berburu-buru bunga-bunga adik kelas. Masa dimana kalau tanding Basket selalu ada ibu-ibu “Dharma Wanita” bukannya batangan doang yang nyuporterin. Masa dimana malam minggu adalah waktu mengunjungi pacar bukannya kumpul lagi-kumpul lagi sama sesama batangan di posko PHC atau gak lapangan basket sekolah (kita benar-benar suka gak penting basket buta malem-malem gelap tanpa lampu saking desperatenya). Masa dimana Valentine adalah hari yang ditunggu-tunggu selain Lebaran bukannya malah naik gunung menghibur diri atau caving sesama batangan. Ya, masa sekolah gue adalah tentang invisible, no body knows me but I do know everybody.

Labels:

Friday, March 21, 2008

Kuntilanak 3

Jakarta, 2030. Di sebuah cineplex gaul cukup ternama. Para pemuda-pemudi dengan gaya berpakaian mutakhir mengantri tiket untuk menonton film bersama pacar, sahabat, teman, target pdkt, atau sendirian (untuk yang terakhir itu sering saya lakukan, poor me). Setelah mendapatkan tiket yang diinginkan, mereka membeli camilan dan minuman secukupnya (tentu saja harus dari stall snack bar yang disediakan). Tunggu tunggu, kenapa mereka tidak langsung masuk ke studio yang dituju tapi malah beramai-ramai ke semacam deposit counter yang ada di pojokan terlebih dahulu ? Bentuknya seperti counter penitipan barang kalau kita mau masuk toko buku. Oh ternyata itu adalah tempat penitipan otak sebelum mereka masuk ke studio, yang nanti bisa diambil kembali begitu film selesai. Iya betul, pada tahun segitu kita diwajibkan menitipkan otak di sebuah counter deposit sebelum menonton film lokal (lokal = produksi Indihe Brothers). Hal ini untuk menghindari penyakit otak akut yang parah efek samping akibat menonton film-film sampah lokal yang sayangnya merajai semua jaringan bioskop di Indonesia. Sedihnya, pada waktu itu perfilman lokal sudah dikuasai oleh sekelompok Indihe Brothers dengan modal kuat karena sukses menipu orang Indonesia selama bertahun-tahun terhitung sejak awal tahun 2000an dengan trik : film itu harus dengan judul yang bombastis, hantu lokal yang fantastis, tema vulgar seks yang bikin penasaran atau malah film yang dibungkus nuansa Islami sekalian. Itu saja sudah cukup, kerja paling penting dalam membuat film adalah mencari judul dan tema yang bombastis. Produksi, alur cerita dan pemainnya dikerjakan ala sinetron striping, tidak jadi masalah. Toh nantinya orang juga sudah terlanjur membeli tiket, tidak perduli mereka puas, speechless, cacat permanen atau jadi bego para Indihe Brothers itu tidak peduli. Karena itu, pemerintah berinisiatif untuk membuat peraturan dimana setiap bioskop harus menyediakan counter deposit guna penitipan otak sebelum film dimulai. Hal ini tidak hanya untuk melindungi otak masyarakat dari kerusakan akut tapi juga agar selama di dalam bioskop para penonton tidak bisa memakai logika sehingga dapat menonton dengan tenang lalu mengeluarkan emosi yang sesuai. Indihe Brothers itu, benar-benar rajatega.

Prediksi ini gue buat setelah menonton Kuntilanak 3, persis sebulan setelah menonton XL. Ok, ini bukan perkara kapok sambel atau gue yang dogol salah sendiri berani ngambil resiko nonton film produksi Indihe Brothers itu. Habis gimana, menjadi lajang (lajang = istilah single dengan nuansa lebih elit dan terhormat, jomblo = istilah single yang sounds so phatetic and desperate, jalang = istilah single yang saking sudah begitu desperado membuat dia selalu haus akan wanita baik bayar atau pun suka sama suka) di ibukota membuat gue jadi murahan, siapa aja yang ngajak pergi pasti gue iyain. Begitu juga malam minggu kemarin. Tau-tau aja dengan kuputusan sepihak, tiket udah langsung dibeliin sementara gue yang masih on the way tidak punya suara voting apapun. Nasib. Kuntilanak 3 alih-alih jadi film horor yang menakuti-nakuti penonton justru sukses bikin gue ngakak. Banyak banget scene-scene dengan logika asal yang akhirnya jadi lucu menghibur. Coba bayangin : lo lagi di tengah-tengah hutan yang katanya perawan, sudah malam-malam pula, lalu ada suara bayi nangis dan lo malah memutuskan untuk mencari sumber suara bayi nangis tersebut, tidak lupa harus berpencar sendiri-sendiri. Atau yang ini : ada cewek di tengah hutan dan sudah larut malam, lo gak merasa aneh dan malah lo hampiri lalu lo sapa akrab ”mbak mbak, sedang apa mbak di hutan malem-malem ?” (sekalian aja munculin Brontosaurus di tengah hutan Indonesia malem-malem pasti juga bakal disamperin dan diberi pertanyaan yang sama). Masih ada lagi : lo menemukan kompleks menyeramkan dimana ada mayat membusuk tergantung terbalik dan bangkai sapi dengan isi perut terburai berisi bayi kuntilanak tapi lo malah memutuskan “baiklah, ini tempat yang cocok. Kita bermalam sekali lagi disini malam ini” dan tak lupa juga lo ambil bayi kuntilanak tersebut untuk dirawat, "saya akan rawat bayi ini, habisnya kasihan" kata lo. Yang terakhir : lo mergokin kuntilanak lagi makan bocah-bocah di tengah hutan dan dengan pintarnya lo buru-buru ngambil kamera (memang sih, punya avatar foto bareng kuntilanak di facebook dan friendster pasti keren) bukannya malah lari kabur. Menonton memang jangan terlalu memakai logika, lah wong namanya juga film. Tapi dialog-dialog dalam situasi-situasi yang gak nyambung benar-benar membuat Kuntilanak 3 berantakan, jadi serasa nonton acara sketsa semodel-model Extravaganza di Trans-TV atau Jojon show di AN-TV : ada tokoh-tokoh setan tapi lucu dan kocak. Gue sama sekali tidak meragukan Rizal Mantovani, efek-efek yang dia tampilkan bolehlah untuk ukuran film lokal. Tapi tolong dong ceritanya. Amat terlalu jelas tampak dipaksakan menggeber 3 film dalam 1 tahun demi bisa dikategorikan trilogi, trilogy is obviously something sounds cool. GOD bless Indihe Brothers, semoga lekas diberi hidayah.


Labels:

Friday, February 29, 2008

Sepeda Baru















Frame : Scott YZ 7005 14” (Generik)
Front fork : RST Launch T8
Handlebar : Kalloy 6061 PG
Headset : Token
Headstem : Zoom
Handle grip : Soft
Saddle : Velo Plush
Seatpost : Thomson
Groupset : Shimano Alivio

Tyre Kenda : 26” x 1”95
Wheelset : Alexrims EN24 (Black Edition)
Front Rear Hub : Cane Creek
Brake : Tektro F&R Disc Brake BRM465


Hore ! sepeda gue udah jadi, alhamdulillah akhirnya. Semua part gue beli di Yeriko Bike Shop di Cililitan (Koh, sebagai tanda terimakasih untuk diskon seatpost Thomson yg lo beri nih gue promosiin toko lo). Spesifikasi dibikinin sama Agung, orang yang menurut gue udah master berat di dunia per-sepeda-an. Si Agung itu walau fisiknya keliatan letoy tapi jangan salah, jam terbang sepedanya udah tinggi, segala macem track outbound mulai dari Lembang, Puncak, Parakan Salak udah dibabat. Dia juga yang nawar-nawar barang. Ya iyalah gue blank berat, analoginya gue gak tau mahalan mana AMDK atau Pentium, bagusan mana Altec Lansing apa Creative. Bener-bener gak tau brand-brand di dunia per-MTB-an.

Dari kecil gue udah doyan naik sepeda, meskipun dulu sepeda yang dibeliin bokap murahan (maaf ya pi, tanpa mengurangi rasa hormat nih). Habis gimana coba ? Kalau temen-temen gue yang lain sepedanya merk FEDERAL®, merk sepeda gue MOUNTAIN BIKE® aja, udah gitu yang kecil pula. Gile itu pabrikan gak bisa nyari nama lain apa ? Coba, apa yang lebih murahan dari sepeda jenis MTB yang merk-nya juga MTB ? Jadi inget sama J-Rock, band Indonesia yang beraliran J-Rock. Untung dulu Tipe-X gak pake nama Ska untuk nama band mereka. Kalo sampe tega Tipe-X pake nama Ska, maka Kangen Band tampak begitu elegan buat gue.

Loh kok malah ngelantur to mas. OK balik lagi, inget gak dulu awal 90an, pas sepeda MTB booming, hampir tiap bulan ada acara fun bike. Gue yang masih TK pun (kebohongan publik : pemalsuan umur) selalu bersemangat. Bahkan sepanjang liburan puasa, setiap abis subuhan kami selalu sepeda-sepedaan sampai jam 11 baru balik rumah, mandi, trus tidur siang sampe gempor, bangun-bangun tinggal buka puasa. Jalur sepedaan kami juga gak main-main loh, lumayan jauh. Kadang ke Semanu muter lewat Karangmojo atau ke Playen muter lewat Paliyan. Dan lewat jalan-jalan kampung yang belum diaspal, masih gamping kasar gitu. Itu semua kurang lebih 20 km untuk anak SD dengan sepeda kecil standar, tanpa shifter, dalam kondisi puasa pula, not bad huh ?

Sekarang ini, mainan sepeda di usia tua juga bisa jadi terapi tempurung lutut kiri dan engkel kiri gue yang udah akut. Bener-bener udah begitu akut sehingga ngeganggu kalau latihan basket lately (gue suka mandang iri setiap nonton anak-anak main Basket dengan gerakan yang bebas gak usah takut injured). Gue harus lebih pinter ngatur schedule, karena jadwal outbound XC jelas bakal bentrok sama latihan basket hari sabtu. Yang jelas, sepertinya gue bakal mencintai dunia baru ini. Mainan MTB seperti nemuin lagi dunia hiking yang udah gue tinggalin sejak kerja. Dan justru lebih excited sekarang. Karena crosscountry atau pun downhill pake MTB itu gabungan antara outbound dan sepeda, semua anak kecil pasti suka main sepeda. Kalo udah gitu paling mak gue yang bakal kumat bawel lagi nanyain bilo kabaralek dep, main ka main, carilah bini, iko indak, bantuak anak ketek taruih. Biasanya gue langsung mendadak budeg.



Labels:

Tuesday, February 26, 2008

XL = Extra Liar

Coba dibayangkan bagaimana rasanya menonton Star Wars Episode One tapi ternyata filmnya tentang Harry Potter yang sedang berguru mantra Patronus kepada Obi Wan Kenobi dengan asisten Anakin Skywalker, karena itu masih sah-sah saja kalo judulnya Star Wars. Atau contoh lainnya misal nonton Da Vinci Code tapi ternyata filmnya tentang Peter Parker yang lagi asik memecahkan misteri Piramid Giza di Louvre yang salah satu satpamnya bernama Robert Langdon, jadi masih sah-sah saja kalo judulnya tetep Da Vinci Code. Itulah yang gue rasain ketika nonton XL malam minggu yang lalu. Sebuah film yang gak sesuai antara judul dengan jalan cerita, jaka sembung naik ojek.

XL adalah tipikal film yang menipu. Dari judulnya wajar dong kalo gue mengharapkan dan membayangkan situasi-situasi kocak saat Jamie mencoba berbagai teknik mak Erot yang sangat mungkin bisa diutak-atik jadi bahan yang menarik untuk sebuah film komedi dewasa. Apalagi dengan tambahan Antara aku, kau dan Mak Erot. Jujur gue tertarik nonton karena ada Jamie Aditya disitu, VJ MTV Asia terkocak (dan terbaik) hingga saat ini (setuju gak makin kesini VJ MTV Indonesia makin murahan, modal muka Indo dan simsalabim you are the VJ MTV now). Yang dulu pernah sukses kocak gila dengan Jamie si Anak Ajaib di MTV. Adegan pembuka film, Jamie bersama temen-temennya lagi ngangkut pecun lumayan bikin gue berharap malam itu sudah membuat keputusan yang benar dengan menonton XL. Gue jadi inget masa-masa kuliah di Bandung dulu, istilah kita : jalur sutra. Jalan-jalan malam melihat kehidupan malam yang dimulai dari Jl. Alkateri dan ditutup di Jl. Sumatra, teritori bencong wilayah Bandung dan sekitarnya. Gue bilang ‘melihat’ ya, sumpah demi cuman liat-liat gak sedikitpun kami berani menenyentuh pecun-pecun itu. Bukan karena alasan agama tapi lebih ke alasan ekonomi (mecun = bayar = duit = mahasiswa duit pas-pasan).

Sepuluh menit pertama semuanya masih menyenangkan, belum ada tanda tanya yang bikin kita protes seperti kebanyakan alur-alur ajaib di film produksi Indihie grup. Perkenalan awal karakter tokoh-tokoh yang cukup menghibur : ada si tukang ngewek, si tajir dan si culun bertitit kecil. Konflik mulai dibangun saat si culun tadi mau dinikahi paksa dengan cewek hiperseks (sayang karakter hiperseks sama sekali gak diperlihatkan T_T). Sebenarnya Sarah Sechan bisa menjadi hal yang sangat lucu di film ini kalau saja si pembuat film konsisten dengan judul film : tentang Mak Erot dan ukuran bukan ? Mendadak XL jadi film drama penuh nasihat dengan sedikit kemunculan Mak Erot dan kekonyolan Jamie. Perpindahan scene yang kaku gak smooth. Satu setengah jam kemudian mengalirlah adegan-adegan romantis antara Jamie dengan si Pecun yang maksudnya pengen bikin penonton terharu dan ber-ooooh so sweet justru bikin gue gak sabaran karena seingat gue sebelum masuk studio judul filmnya adalah XL dan Mak Erot bukannya When Harry Meet Sally. Apalagi solusi penutup yang buru-buru dan instan, mendadak aja si culun batal nikah sama si hiperseks, diganti sama si tajir setelah makan malam bersama. Iya sumpah simple dan cepet gitu aja, konflik selese well done, that easy..

Bagaimana pun juga kesalahan ada di gue. Harusnya dari awal gue harus siap menerima konsekuensi dengan mengambil resiko menonton film produksi indihe grup. Gue angkat topi untuk indihe bersodara itu, ternyata mereka masih memakai resep yang sama : orang Indonesia mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi karena itu buatlah judul-judul film yang kontroversi (misal hantu-hantu legendaris dan urban legend lokal). Mereka tahu betul nama besar Mak Erot bisa jadi gimmick manjur untuk attract penonton. Dan mereka benar sekali, terbukti malam itu studio penuh. Harusnya judul film itu diganti jadi XL featuring Mak Erot, mengingat Mak Erot cuman jadi cameo. Kasihan Monty Tiwa lagi-lagi dia mengulangi kesalahan yang sama di Maaf Saya Menghamili Istri Anda, memiliki ide yang bagus dan menarik untuk sebuah film tapi screenplay yang gembel. GOD bless indihe bersodara, the Indonesian movie crasher !

Labels: ,

Saturday, February 09, 2008

Tips Selingkuh

1. Jangan pernah kenalan pake nama asli lo. Buatlah nama rekaan yang masuk akal. Kata masuk akal disini penting-penting enggak sih sebenernya. Maksud gue jangan pilih nama samaran yang mencolok bego dong. Cewek manapun akan curiga kalo pas kenalan lo pake nama “Hai nama gue Paijo, Tukino, Wagino, Obama, Panglima Besar Sudirman, Clark Kent atau Donal Bebek”. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada generasi bapak-bapak tapi sepertinya nama-nama itu udah nyaris punah dan jarang dipakai pemuda-pemuda masa kini (halah). Cobalah pilih nama-nama yang netral dan pasaran semacam Budi, Iwan, Eko misalnya. Itu jauh lebih make sense (untuk nama yang udah disebut dan tidak disebut jangan tersinggung).

2. Segera bilang “Saya gak punya, apaan sih tuh ?! mahal gak ?” ketika ditanya apakah ada account friendster atau facebook. Sumpah asli, software pertemanan semacam ini berbahaya sekali bukan hanya karena ada isian status disitu tapi fasilitas connection through bener-bener bisa bikin mati kartu kita dengan “lho lo kenal X juga ? lho kok bisa kenal Y sih ? kenapa lo bisa deket sama Z ya ? akrab bener sih kalian kalau dilihat testimony-testimoninya”. Ingat hal ini penting sekali, ngaku aja gak punya friendster atau facebook meskipun hal itu akan membuat image lo kampungan gak eksis dan sangat gak kekinian. Toh save play masih jauh lebih penting daripada merusak semuanya, isn’t it ?

3. Carilah tempat kencan yang gak umum. Jauhi tempat-tempat eksis pasaran semacam Kemang, Senayan dan kawan-kawan. Weits, tempat gak umum bukan selalu berarti gak ok lho. Prinsipnya begini, ada dua pendekatan : tempat ok tapi jauh atau tempat yang deket tapi garing. Misal di BSD Junction, jauh gila tapi masih lumayan dan yang pasti sepi abis (gue pernah iseng main kejar-kejaran di tengah-tengah Atriumnya, saking sepinya) atau pendekatan kedua di Dwima Plaza yang di tengah kota tapi udah gak laku dan sepi juga. Teater IMAX Keong Mas di Taman Mini boleh juga. Contoh lain kalau mau nonton jangan di Blitz atau XXI, cobalah di Buaran 21 atau gak di Tambun Theatre. Kalau mau makan cobalah di Nasi Gudeg di Pasar Rumput, Sop Kaki Kambing di Tanah Abang atau Gajebo Nasi Kapau di Pasar Senen, jangan menghina tempat-tempat yang disebut barusan karena seriously itu semua adalah tempat trendi pada masanya.

4. Berikut ini trik yang mahal dan paling nyusahin: Jangan pake kendaraan pribadi. Cobalah kendaraan umum, taxi kalau lo ada duit lebih atau justru malah pinjeman. Kendaraan bermotor pribadi lengkap dengan identitas nomor polisi yang unik sangat mungkin bisa menjadi masalah di kemudian hari. Tau-tau aja kaca mobil lo remuk, ban kempes, atau gak minimal ada baret gambar pemandangan (gunung dua, matahari di tengah, jalan membelah di tengah, kiri kanan ada sawah, gubuk dan satu pohon kelapa di pojok. Itu loh tipikal gambaran anak TK, gue pernah bikin di mobil EVO gaul orang nyolot di warnet Buahbatu Bandung once pas dulu masih kuliah) yang dibuat pake goresan paku di body mobil oleh korban-korban yang gak terima atas kebangsatan dan kejahatan lo.

5. Berterimakasihlah atas makin ketatnya kompetisi operator seluler yang membuat banyaknya pilihan SIM card saat ini, dan murah. Karena itu jangan ragu-ragu untuk pake banyak nomer, murah ini kok gak kayak jaman gue dulu beli kartu perdana yang bisa sejutaan. Hape-hape juga udah banyak yang murahan juga. Intinya sama kayak tips-tips sebelumnya, hindari sebisa mungkin memakai identitas asli. Kalau pun gak bisa beli hape khusus, kasih nama undercover cowok di phone book. Tapi namanya jangan sampe ketuker-tuker, buatlah sebuah pattern atau formula. Misal ditambahi no di belakangnya: Wati jadi Wationo, Rika jadi Riko, Rini jadi Rinto (semua nama adalah rekaan kalau ada kesamaan tokoh dan nama itu hanyalah kebetulan belaka).

6. Being smart dong. Dunia gak selebar kolor ucok baba, man. Karena itu pilihlah calon korban selingkuh yang gak satu komunitas sama pacar resmi lo, ya gak satu kampus, ya gak satu sekolah, ya gak satu les-lesan, apalagi satu gang sepermainan. Cuman lelaki bodoh yang selingkuh sama cewek yang satu kelas sama pacarnya, ok kecuali kalau selingkuhan lo itu adalah tipikal nakal yang suka tantangan dan intrik penuh permainan. Tapi jangan deh, cewek itu makhluk aneh dan mereka suka gak penting. Lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Lagian selama masih banyak pilihan alangkah baiknya kalau lo memperluas jangkauan dan jaringan daripada mentok di situ-situ aja.

7. Yang terakhir, jangan sampai lo ke tahap meet the parents. Wuidih ini adalah big no no, bukan hanya membuat lo merasa bersalah pas mau ninggalin tapi doa orang tua atas anaknya yang udah jadi korban dan teraniaya sangatlah manjur adanya. Bisa susah hiduplah disumpahin –anggap saja- puluhan orang. Gunakan berbagai alasan ngeles yang sopan, being green behavior dan canggih. Misal cukup sampai gang depan bilang aja susah untuk muter balik nantinya atau bilang aja ada banjir lokal di kompleks gak mungkin bisa jemput ke rumah jadi ketemuan aja somewhere atau bilang aja untuk meminimalisasi polusi yang dilepas ke udara akibat pembakaran bensin yang tidak sempurna bisa meningkatkan emisi karbon di udara yang dapat melubangi ozon. Contoh terakhir bukan hanya bisa jadi alasan tapi juga sekaligus membuat lo tampak seperti pejuang-pejuang lingkungan ala artis-artis di Infotainment lately. Antara bijaksana dan dogol.

8. Ini yang paling penting. Banyak-banyaklah berdoa semoga selingkuh lo berjalan lancar dan lo akan baik-baik saja. Terlebih dahulu biar tenang, buat sebuah mindset kalau selingkuh itu sama sekali gak dosa jadi lo akan tampak wajar pada prakteknya (selingkuh sambil grepe-grepe dan meraba-raba itu baru dosa besar).



Note : Semua tips-tips ini dirangkum berdasarkan studi literatur, observasi di lapangan, sharing pengalaman bersama nara sumber yang dirahasiakan identitasnya. Yang jelas bukan dari pengalaman pribadi penulis. Selamat mencoba jangan lupa bismillahirrahmanirahim, may the force be with you son !

Labels:

Saturday, December 15, 2007

The Sh*t Story




















Setiap orang pasti punya kisah pribadi dengan pup (versi sopan), e’e (versi anak yang lahir tahun 80an), boker (versi trend 90an) atau berak (versi abang-abang, ini vocab buang air besar yang paling gak enak didenger), what so called The Shit Story. Macem-macem pasti, mulai dari keluar di celana seperti masa-masa TK SD, WC mampet di kantor dan kita ke-gap sebagai tersangka utama, berantakan kemana-mana di pesawat, keabisan tissue dan hal-hal konyol semacam itu. Gue misalnya: gak bisa melakukan aktifitas 'penting' ini di tempat umum, atau di toilet orang lain karena memang gue kebiasaan harus langsung mandi sesudahnya. Behavior ini jelas nyusahin meski sekarang udah jauh-jauh lebih mendingan sejak kepaksa sharing toilet di Manchester. Dulu pas SMA setiap kali mau naik gunung, gue udah 'bongkar muatan' abis-abisan sebelum berangkat sebagai persiapan beberapa hari ke depan yang gak bakal ada pup-pup. Sampe sekarang gue gak bisa ngebayangin pup model naik gunung dengan cara gali lobang di tanah, arrrrgggghhhh ! mendingan dicubit bencong limapuluh kali sambil nonton sinetron Cincha Laurwa (jangan lupa aksen 't' dibaca 'che' dan r dibaca 'arw') daripada harus ngelakuin cara pup paling primitif semacam itu. Pernah pas lagi ada event lomba Hiking Nasional di Baluran tahun 1997 pas masih muda dulu, gue bela-belain jalan kaki jauh gila nyusurin sungai demi ngejauhin pusat kemping supaya mastiin gue adalah orang yang pup paling depan jadi gak bakalan ada pup orang yang lain yang ngelewatin gue (waktu itu have no choice karena kita seminggu hikingnya lanjut ke Semeru, bisa meledak gue kalo tetep ngotot nahan-nahan, kemampuan maksimal gue paling mentok 3 hari).

Tapi yang paling mendebarkan pas gue naik kapal kelas ekonomi, Lambelu, dari
Padang ke Jakarta tahun 1999. Sampe sekarang gue masih merinding kalo inget pemandangan itu. Jadi waktu itu gue lagi kencing di restroom-nya, sementara lokasi box-box toilet ada di belakang gue. Tiba-tiba ada ombak gede kapal jadi miring ke samping. Puji tuhan insting gue kuat karena entah kenapa gue iseng nengok ke belakang (dengan posisi masih asyik masyuk megang ‘itu’), eh ternyata eh ternyata tak dinyana tak diduga ada beberapa potong (maaf) tai menggelinding deras ke arah gue (karena posisi kapal miring ke arah gue). Dalam hitungan detik (sekali lagi maaf) tai-tai itu udah nyaris deket aja kena kaki gue tapi untung reflek gue selalu bagus kalo udah kepepet. Karena gue langsung berjingkat-jingkat lompat-lompat menghindari (maaf beribu maaf) tai-tai tersebut tentu aja dengan posisi masih kencing (bayangkan betapa sulit dan terjepitnya posisi gue ketika itu, lompat-lompat tapi dengan tangan tidak bebas karena sedang memegang ‘sesuatu’ yang ukurannya cukup lumayan, halah ! pesan sponsor, biased). Gak pake cuci tangan pun cuci ‘itu’ gue langsung kabur balik ke kamar karena gak lama setelah itu kapal malah berbalik miring ke arah yang berlawanan (dimana tai-tai tersebut kembali terguling-guling ke arah box toilet) dan gue bersumpah mati gak bakal ke restroom itu lagi, tidak sebelum sampai Tanjuk Priok, Jakarta.

Kalau kisah di Kapal Lambelu itu boleh dibilang versi hardcore, gue juga ada versi ndeso hardcore yang lain. Kejadian ini pas hari-hari pertama tinggal di Hardy Farm Student Hall di
Manchester. Gue yang kampung, gak biasa toilet duduk, toilet tissue, toilet kering apalagi. Karena itu gue agak heran waktu pup perdana di UK, kok ya gak ada tong sampah buat buang tissue bekas (si orang bodoh ini bener-bener gak tahu - knowledgeless - kalo tissue boleh dibuang ke dalam toilet dan memang begitu caranya). Jadi terpaksa dengan penuh rasa tanggung jawab tissue-tissue yang udah ‘bergelimangan’ bekas ngelap (d'oh, mendadak geli mulas) gue bawa aja ke kamar trus gue buang di tong sampah deket meja belajar (huuaaa, dare to imagine that ? you sleep all night long in the same room with our own sh*t ?!). Sampe sekarang gue masih eneg dan gemes kalo ngebayangin ketololan itu, apalagi hal itu sempet gue jalanin selama seminggu sebelum gue tau kalo kita boleh buang tissue ke dalam toilet karena dijamin gak akan bikin mampet gak kayak di Indonesia (sering kan ada warning sign “dilarang membuang apapun ke dalam toilet”). Ya Tuhan…



*) picture courtesy of www.howstuffworks.com

Labels:

Thursday, December 13, 2007

Chat Yang Bodoh II

Udah pernah gue posting sebelumnya kalo gue dan Yudi Bo memang ditakdirkan selalu berdiskusi untuk hal-hal yang gak penting pun gak produktif tapi justru karena itulah kita masih nyambung goblognya sampe detik ini. Chatting berikut terjadi kemarin pas kita rencana mau nonton Jiffest bareng.

Deffarmen Mehan: kapan nih nonton Jiffest ?
youtheecotton: ntar aja yok gw balik kantor jam 4
youtheecotton: mau ga
Deffarmen Mehan: ada film apa ?
Deffarmen Mehan: nonton dimana ?
youtheecotton: Blitz or Jaktheater
youtheecotton: ok, murah soalnya
Deffarmen Mehan: jam berapa bo ?
youtheecotton: magrib or jam 7 lah plg malem
Deffarmen Mehan: sip sip
youtheecotton: ketemu jam 5 or 6
Deffarmen Mehan: ya udah
Deffarmen Mehan: ada yg ok gak bo ?
youtheecotton: liat webnya aja
youtheecotton: http://www.jiffest.org
youtheecotton: biar ntar tau antri nonton apaan
Deffarmen Mehan: tapi kayaknya kok jelek-jelek ya
Deffarmen Mehan: banyak jg ya film si Punjabi germo bersodara itu yang lolos jiffest
Deffarmen Mehan: howcome ?!?!?!?! watdefak ?!?!?!?!?!?
Deffarmen Mehan: disogok kali ya ?!
Deffarmen Mehan: jiffest bukan filmnya unik-unik biasanya ?
youtheecotton: iyeee gilaa
youtheecotton: BBB aja masuk
Deffarmen Mehan: BBB itu sebenernya bisa bagus bo
Deffarmen Mehan: kalo seandainya BBB genre-nya ‘semi’ atau gak ‘hardcore’ gitu
Deffarmen Mehan: wew, mantap pasti, gue langsung ngantri paling depan !

Yah begitulah kita membahas mengapa banyak film-film horor kacangan yang masuk Jiffest tahun ini dan kita juga berkhayal seandainya bakat-bakat para personel BBB ‘dioptimalkan’ daripada serba nanggung, akting : ya gitu deh dan nyanyi : ya gitu deh, mending buat terobosan pelopor film 'semi' Indonesia, pasti akan dikenang sepanjang masa. Daydreaming huh ? BBB in XXX edition ?! tapi pertanyaannya berikutnya yang bakal gue pantengin si Dimas Beck atau Laudya Chintya Bella ? sama-sama ok sih.

Labels:

Sunday, October 21, 2007

Kecap Bango dan Bandeng Presto

Bagi mahasiswa Indonesia di Manchester ada beberapa barang yang saking begitu berharganya bahkan bisa bikin kita mau melakukan apa aja: berbohong, bela-belain pagi-pagi jemput di bandara dengan pamrih tentu saja, nitip sok akrab tak tahu malu atau bahkan makan temen sendiri kalau perlu.

1. Kecap Bango
Ini adalah primadona yang paling banyak di request pas jaman gue. Alasannya kecap Bango paling cocok untuk berbagai macam masakan (Unilever ! you owe me for writing these words). Tapi sebenernya gak perlu dipake sebagai bumbu masak sekalipun, kecap Bango selalu bisa jadi andalan dengan kombinasi nasi hangat dengan telor ceplok saja.

2. Teh Botol Sosro
Jangan ditanya ketatnya kompetisi demi mendapatkan produk ini, nyolot ke temen terbaik lo pun bakal dilakuin demi minuman yang sebenarnya biasa aja kalo di Indonesia. Stok yang sangat terbatas dikarenakan agak repot kalau mau nitip teh botol Sosro gak seperti halnya kecap Bango yang ada versi sachetan isi ulang 2 literan. Well, even we still able to bring the box version but drinking from the bottle directly is much much far different, isn’t it?

3. Mie Sedap
Emang sih waktu pertama kali dateng dulu ngeliat Indomie aja udah bikin lega dan seneng banget. Bahkan Indomie goreng lumayan punya nama disini, maksud gue bukan hanya orang
Indonesia yang doyan tapi orang-orang dari negara lain. Sampe temen gue Malay ada yg ngomong “only stupid eats Maggie”, iya bisa dibilang Indomie adalah merk Indonesia pertama dan satu-satunya yang bisa bikin gue bangga selama disana. Lo bisa cek di Facebook, sampai ada group khusus penggemar Indomie goreng lho. Tapi mungkin bagi yang udah ngerasain Mie Sedap, Indomie goreng gak akan ada apa-apanya (Wingsfood, you owe me for writing these words). Sukurlah nitip Mie Sedap tidak akan terlalu merepotkan karena bisa diselip-selipin di koper, bahkan satu box masih aja bisa muat.

4. Bandeng Presto
Ini adalah contoh nyata dari thing is worth when it’s gone. Soalnya kalo lagi makan di warteg sebenarnya gue paling anti Bandeng dan lauk ikan-ikanan lainnya, mendingan berlauk cukup
tempe mendoan doang. Tapi disini tiba-tiba Bandeng yang digoreng dengan balutan telur kocok bener-bener jadi Lauk of The Year lengkap sama sambel manis sachetannya. Apalagi kalo makannya pake berebutan segala, bisa tuh gue nyolot sama siapa aja yang tanpa merasa bersalah berani ngegado Bandeng gak pake nasi.

5. Segala macam rokok Indonesia
Ok, ini bukan hanya karena rokok Indo lebih enak dengan Nikotin dan Tar yang hampir tiga kali lipat lebih tinggi, yang artinya lebih mematikan sekaligus lebih nikmat tapi juga karena harganya. Harga satu kotak rokok di UK sebanding dengan harga satu slove di Indonesia. Rokok di UK bener-bener setan, dalam arti harganya maksud gue bukan dalam konteks setan sebagai penyebab utama kanker, impoten atau slogan sehat lainnya.

Labels:

Monday, May 28, 2007

Marriage is Just Like Playing Basketball

For me,
Marriage is like playing Basketball
You got mate to pass
And some other time will be Her turn
You will play in various positions
As a Guard to play the ball
as a Power Forward to give protection
Or Centre to get closer to the key hole

Play the tempo as you have to speed up and RUN !
Do nice
fake steps to break some ankles
Cut over then pick and roll
Go go ! for both defence and offence
Hustle till the game finished only by a whistle
Um um ! sorry but no sub for this time
It is two on two game play anyway
Only you and your mate, the two of you !

Your order is just play, then play and still play (did i just say PLAY yet ?)
Always give your best shot and your hardest block ever
As a team, with your mate fight to win the game
Then the question is not what is my score ?
what is her score ? do i make triple play ?
do i looked godamn good tonight ?
Nope ! It is all about what is our score

Marriage is just like playing Basketball
It could be fun, boring
or even worst your nightmare alive
It is up to you
Cuz from the first quarter already : You are the Captain !



(lambemu dep dep, over ngowoh, kakean ngayal, kakean iyik, rep rabi ro wedhus po saiki ?!)

Labels: ,

Sunday, May 20, 2007

Anthem

...Oooh, the story is out of line
we should pick it up again
something has been made out
the brightening day shall arrived...
(Spoken, Pure Saturday)


Ada tiga jenis anthem seumur hidup gue : Iwan Fals masa-masa SD, Pure Saturday (PS) masa-masa SMA dan Blink 182 masa-masa kuliah. Paham definisi anthem disini
kan ? Artis yang udah masuk kategori “anthem” itu artinya album apapun yang mereka keluarkan akan selalu lo anggep keren. Jadi bagi gue seandainya PS ngeluarin single “pok ame-ame belalang kupu-kupu” yang dimainkan dengan chord Jujur ala Radja sekalipun pasti tetap akan gue dengerin dengan nikmatnya. Setiap kali dengerin PS masih terasa jelas panasnya lapangan basket SMA 3, es blewahnya Kang Pri atau malah soal2 SSC yang dicekokin tiap hari, karena PS adalah theme song gue pas begadang UMPTN (sedang The Milo dengan Let Me Begin adalah theme song gue pas begadang TA, bungkuk hormat arigato untuk kalian semua !). Album pertama Seltitled PS bagaikan kitab suci yang semua tracknya bagi gue adalah orgasm moments dimulai dari track pertama Silence sampai terakhir Open Wide.

Makanya pas album kedua PS, Utopia, akhirnya dirilis mau nangis bahagia rasanya. Dan sekaligus juga nangis sedih pada saat Suar mengundurkan diri. Tapi berterimakasih lah pada Iyo yang mau ngegantiin Suar, meskipun dengan beban mental yang teramat berat. Jelas berat ! karena ngegantiin Suar di PS sama aja ngegantiin Freddi Mercury di Queen atau kalo versi lokalnya adalah ngegantiin Ian Kasela di Radja (meski udah beli 10 set kacamata yang sama sekalipun tetep saja Ian Kasela tak akan tergantikan). Dan tadi malam gue iseng (setelah 2 presentasi sekaligus dalam sehari saatnya istirahat) browsing YouTube ngetikin PS. Ada live terbaru mereka di Indosiar (gue memang secara berkala ngecek keyword Pure Saturday dan The Sastro di Youtube). Ada Suar segala loh, gile si Suar udah om2 banget disitu, gak akan nyangka dulu dia pernah jadi salah satu ikon indie movement indonesia jaman 90an. Sekarang Iyo pun juga udah mengundurkan diri (hiks) tapi ya Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pemberi tolong takdirkan PS jangan sampe bubar, cukup sudah satu band anthem gue aja yang ilang : Blink 182...


Labels:

Monday, April 02, 2007

Trik Kuliah

Disini plagiat adalah dosa besar, hukumannya bisa drop out dan di black list oleh kampus seluruh UK. Itu baru plagiat, apalagi kalo nyontek wah bisa-bisa bukan hanya drop out aja tapi juga didepak dari campus hall saat itu juga. Karena itu setiap bikin paper kita harus ekstra hati2 dalam mengutip. Permasalahannya adalah sebagai mahasiswa level master kita belum boleh berasumsi sendiri, kita diarahkan lebih ke criticize previous research. Misal hanya untuk nulis statement “ngupil lebih sehat kalo make jempol“ bisa jadi kita harus baca minimal tiga jurnal terlebih dahulu untuk mendukung pernyataan kita itu. Beda jauh jaman2 gue pas di di Bandung dulu, kuliah adalah suatu aktifitas dimana kita kemungkinan tau muka dosen baru pada saat UTS, paling apes pas UAS, iya iya iya deh ngaku : lebih apes lagi UTS semester berikutnya. Tapi dulu gue ada seribu satu cara untuk survive di setiap semester, meski dengan nilai babak belur ancur2an tapi setidaknya gak sampe di DO :


1. Sooner better
Bangun pagi itu sehat dan baik untuk masa depanmu, khususnya pada hari-hari ujian, prinsipnya adalah selalu kurangi 2 jam untuk semuanya. Kalo di schedule ujian dimulai pukul 08.00 artiya jam 06.00 lo udah harus siap di depan pintu kelas, dan begitu dibuka segeralah cari posisi terbaik dan tek-in tempat2 terbaik untuk teman2 terpintarmu (yang gak pelit tentunya). Jadi bawalah textbook sebanyak mungkin, bukan buat dibaca sebelum ujian dimulai melainkan sebagai alat bantu supaya tempat2 yg lo booked gak terlalu mencolok dan valid (biasanya kalo ngetekin cuman make satu setip, satu bullpen, satu penggarisan, satu serutan seringkali dianggap gak aci). Oya, jangan pernah ngambil bangku paling belakang, karena justru itu area paling berbahaya yg bakal selalu di pelototin abis2an sama pengawas selama ujian nantinya.

2. Be a good nice warm senior
Jangan pernah terlalu kejam sama junior pas ospek jurusan. Ingatlah kalau roda itu berputar jendral, bisa jadi ada masa2 kita ‘diharuskan’ mengulang kuliah hingga tiga kali yang artinya junior akan jadi partner penting kita selama perkuliahan. Kalau perlu selama ospek lo udah nandain sing pinter2 sopo wae dan coba ngelindungi dia di depan panitia2 swasta untuk membangun image yang baik, cara ini lumayan efektif.

3. Hormati senior
Bergaulah sebanyak mungkin dengan senior, jangan pernah coba berkonfrontasi langsung dengan mereka. Ingat kemungkinan besar semester2 awal yang jadi pengawas ujian adalah senior lo. Misal : kalau main basket dengan senior buatlah mereka bangga dan senang dengan memberi passing2 enak, jangan sering2 ngeblock dan komentar ketika shoot mereka benar2 ancur (dan bener2 bikin gemes), bilanglah sesuatu yang keren tentang permainan mereka sore itu, dijamin mereka akan ingat selalu terutama pada saat ujian (pernah kopekan gue jatuh persis pas pengawas lewat tapi karena passing2 enak kopekan tsb malah beliau ambilin buat gue).

4. Sniper
Ini cara yang paling seru dan berisiko tinggi karena memerlukan banyak koordinasi, carilah orang pintar yang super pintar karena orang tersebut harus mampu menjawab soal2 yang sedianya boleh dijawab dalam 3 jam tapi dia harus mampu menjawab sejam aja supaya masih ada spare waktu untuk mendistribusikan jawaban. Jadi satu jam pertama berpura2lah berpikir keras biar gak mencolok, trus pura2 ke kamar mandi untuk memberikan soal ke orang suruhan si sniper untuk mengantar soal tsb ke dia. Lalu di kosan sang sniper akan mengerjakan soal secepat mungkin supaya sejam terakhir jawaban sudah ready to serve di kamar mandi lagi. Resiko memang tinggi tapi hasilnya dahsyat, trik sniper ini cocok untuk ujian2 eksak (Kalkulus, Matek, Alin) karena lo diwajibkan menulis langkah2 gak cukup hanya dengan menjawab hasil akhirnya aja. Weaknesses-nya kalo pas sial dapet sniper yang matre maka traktiran makan sup buntut Bu Dhe + soda gembira (menu paling mahal di kantin) gak akan cukup biasanya dia akan minta dua pan Pizza Hut.

5. Kopekan
Adalah cara klasik yang selalu asik, sebenarnya dari sisi psikologis dengan bikin kopekan adalah lo jadi kepaksa membaca bahan untuk membuat summary agar muat di kopekan lo, karena itu jgn pernah memfoto kopi kopekan orang lain, dijamin bakal kerepotan pas lagi ujian (butuh waktu bermenit2 mencari jawaban ada di bagian mana secara lo gak apal). Kebiasaan ini terus kebawa bahkan hingga ujian-ujian pas gue lagi pendidikan di Permatabank.

6. Notes PS
Serius, ini gak ndaghel dan gue bener pernah nyobain sekali. Setelah SKS beberapa jam saja artinya lo cuman bakal inget2 setengah (nyadar gak sih tiap ngumpul belajar bareng malam sebelum ujian artinya belajar baru dimulai pukul 3 pagi sampai pukul 6 pagi saja). Di setiap akhir kertas jawaban ujian lo buatlah notes yang memohon kebaikan hati dosen. Kasus gue pas ujian Aljabar Linier (yang super bangsat itu), secara gue udah ngambil 3 kali dan pas UAS itu tampak jelas gue sepertinya bakal ngambil lagi entah ide goblog dari mana (orang kalo kepepet mau mati tiba2 suka banyak ide cemerlang yang beda tipis sama ide goblog) di akhir kertas gue bikin notes buat bu Dina Thaib : “Bu Dina saya udah belajar mati2an untuk UAS ini tapi entah kenapa saya masih belum bisa mejawab nomor tiga, eh nomor empat juga ding bu, oiya nomer lima cuman bisa dikit, ok ok ok bu saya nyadar jawaban nomor satu pun hampir pasti salah. Saya masih bingung yang teori Hamilton itu bu, khususnya ketika akan diaplikasikan untuk Eigen Vector padahal saya udah ngambil mata kuliah ini dua kali, semuanya sih dapet C tapi saya gak puas karena saya merasa seharusnya bisa dapet A. Sementara saya harus masukin proposal TA semester depan ini, jadi saya harap ibu mengerti. Ibu tentu juga punya anak kan ? pasti bu Dina bisa mengerti perasaan seorang ibu yang melihat anaknya harus mengulang kuliah empat kali. Akhir kata, semoga Tuhan bisa membalas kebaikan hati ibu”. Sumpah ! gue bener2 nulis note stupid begging kayak beginian dan terbukti akhirnya gue dapet B, setelah 2 kali C berturut2 (oya jangan lupa nulis sedikit istilah2 yang ada di perkuliahan lo setidaknya untuk mengesankan lo bener2 belajar gak murni ngeblank dan super bego).

7. Surat Dokter
Ini adalah jalan terakhir kalau semua tips diatas tadi gak bisa dilakukan lagi. Ide dasarnya adalah kalau hari ini belum siap, siapa tau insyaAllah minggu depan siap. Jadi yang perlu dilakuin adalah menggeser waktu ujian lo, tentu aja lo jangan ngomong langsung ke dosen lo meskipun lo datang dan berbahasa santun “Selamat pagi pak Dhinta, sudah sarapan pak ? oya kemarin malam yang menang PSS apa Persib ya pak ? wah menurut saya lebih baik bapak kredit Jazz aja pak dari pada Inova. Gini pak maksud kedatangan saya ingin memberi usulan gimana kalau ujian TBA-nya minggu depan aja ?”, dijamin lo bakal disuruh sholat Dhuha atau periksa otak ke RSJ di jalan Riau . Cari surat dokter emang gampang2 susah sih, bisa di poliklinik atau praktek dokter terpencil yang keliatan gak laku yang jelas jangan lupa pastiin dokter yg lo datengin sesuai, jangan kayak gue bawa segepok surat dokter dari rumah tapi sia2 karena gak masuk akal secara di kop surat bokap spesialisnya Obgyn dan alamat prakteknya di Gunungkidul. Oya tips ini juga masih gue pake pas ngantor di BNI, lumayan jatah cuti jadi gak kepotong (Pak Ketut, maaf ya).


Labels:

Saturday, March 10, 2007

Resep Sisa

Dima bumi dipijak disinan langik dijunjuang, kata orang Minang sih begitu tapi kalo buat gue dimodif dikit : dima bumi dipijak disinan iduik imaek dijunjuang (dimana bumi dipijak disitu hidup hemat dijunjung).



Lah piye jal, tiap beli sesuatu pasti gue selalu reflek ngaliin dengan 20 rebu, jadi ilfil sendiri deh. Lagian mending juga duitnya disimpen buat nonton gigs (oiya akhirnya gue udah dapet tiket Reel Big Fish). Jadi setiap kali gue spend yang buat begituan, misal nonton England Spain yang membosankan, pasti deh langsung berantakan tatanan financial bulanan yang udah diatur sedemikian rupa. Tapi seperti biasa gue punya segudang trik hemat yang bisa siap sediakan. Setelah trik puasa, trik nebeng maka sekarang adalah trik resep sisa. Resep sisa adalah resep dimana lo memaksimalkan semua bahan2 baku yang lo punya sehingga layak untuk dimakan dan lo hanya butuh 10 GBP seminggu.
















1. Mi Goreng Rendang
Sisa rendang (udah seminggu)
Telur 8 p

Bombay 10 p
Mie 13 p
Oyster Sauce
Pala
Kecap
Garem
Merica
Total 31 p

(rendang yang udah seminggu selain udah bosen juga keras karena berkali2 diangetin pake microwave, tapi justru karena itu jadi kayak dendeng, coba aja kalo gak percaya)
















2. Baso Tahu Lada Hitam
Daging sisa minced spagheti
Telur 8 p
Tahu 1 GBP
Oyster Sauce
Pala
Kecap
Garem
Merica
Total 1,8 GBP

(daging sisa minced dibentuk baso dengan diancurin lagi trus dikasih telur sama pala secukupnya)
















3. Nasi Goreng Kambing
Daging tetelan sisa gule
Cumin
Cardamon
Star Annised
Kacang Polong
Kecap
Garem
Merica
Total (none)
















4. Nasi Cah Capcay
Nah ini tips yang paling ok dan ditunggu2, apalagi kalo rumahnya deket dan gak perlu naik bis. Tinggal dateng ke pengajian dwi mingguan, karena biasanya pas pulang suka dibekelin ^_^ (jangan lupa basa-basi dulu ben ra ketok2 banget)

Total (none)

Labels: