Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Thursday, December 04, 2008

The Gorgeousless Traveller (Jaya Pub : In Indie Scene, Nobody Superstar)

Gue sudah demam dua hari. Tetapi karena terlanjur berjanji untuk berjumpa kawan yang tertunda berkali-kali – dia baru pulang dari Oxford – tetap saja gue paksakan keluar malam senin itu. Malam yang seharusnya haram untuk keluar, yang akan jauh bermanfaat kalo stay di rumah guna menyiapkan mental hari senin besoknya. Gue hanya sedang kehabisan excuse.















Kebetulan ada White Shoes and The Couples Company (here after: White Shoes) di Jaya pub, jadi sekalian sajalah berjumpa dia disana, sekalian bersama Yudi Bo dan rekan. Jaya pub berlokasi di gedung Jaya di daerah Sarinah, gedung perkantoran yang sudah melewati masa keemasannya. Posisi Jaya pub ada di pojok depan area parkir yang bersebelahan dengan Kali Krukut. Dari luar penampilan luarnya Jaya pub ini tampak mesum dan murahan, apalagi dengan lampu kuning remang-remang yang membuat pub Dangdut Asmoro di Blora jadi tampak modern. Gue datang terlambat, Vincent Vega sudah membawakan lagu ketiganya. Tapi gue gak begitu serius untuk menyimak mereka karena terlalu sibuk mengamati dan menikmati ambience interior Jaya pub. Ini pub ternyata lumayan juga. Vintage yang orisinil. Maksud gue begini, kita bisa saja menemukan banyak kafe, pub atau tempat nongkrong yang beraksen retro di seantero Jakarta. Tapi Jaya pub ini sedikit berbeda, dia tidak berusaha sedikit pun untuk tampil retro atau vintage karena memang udah dasarnya pub jadul aja gitu. Sepertinya Jaya pub ini tidak mengikuti perkembangan jaman. Walhasil semua item dan ornamennya menjadi orisinil vintage, bukan retro yang dibuat-buat atas nama gaya interior. Ada bohlam lima watt warna-warni di dinding, juga diatas stage sebagai bukti nyata bagaimana pub ini bertahan tidak mengikuti perubahan trend interior. Dimasa itu memang lampu warna-warni ala Aneka Ria Safari sudah bergaya. Beberapa foto rocker wanita yang gak bisa gue kenali, poster foto model berambut megaloman dan pakaian safari kantor, kata-kata berusaha Inggris yang norak tapi malah jadi menarik, waiter yang sudah sepuh-sepuh, meja bilyard butut, terompet tukang roti dimana-mana, plakat-plakat yang mungkin seumuran sama gue (baca : 24 tahun. lol). Sepertinya kalau foto prewed disini suatu hari nanti ok juga nih (amin).

White Shoes lumayan meski gak didukung sound Jaya pub yang agak ngos-ngosan malam itu. Lagi pula tipikal musik White Shoes toh tidak memerlukan sound berkualitas prima, mereka memang sengaja mengambil sound-sound film roman lama. Saleh dan Sari tampil paling ekspresif. Meski sama-sama retro, White Shoes agak berbeda dengan Naif karena spirit retro yang dibawakan tidaklah sama. Malam itu lumayan padat tapi masih ok lah, maksud gue lo masih bisa jalan tanpa harus permisi berkali-kali. Agak padat memang, syukur-syukur lo bisa menyenggol susu kalau kebetulan agak sempit. Ternyata di antara hadirin ada Erlend Øye. Whitest Boy Alive kan memang baru manggung sehari sebelumnya di Bengkel Night Park. Menarik juga. Begini hebatnya Indie scene. Nobody is superstar. Mas Erlend begeng itu petakilan aja keliaran diantara kita, just like common people. Dan kita pun juga gak norak langsung minta tanda tangan foto bareng dsb. Oiya satu lagi, sepanjang White Shoes main, mas Erlend juga asik sendiri dengan dancing, lompat-lompat as if he do really a big fans of the band. Sebagai personel King of Convenience seharusnya dia GR ngerasa everybody looking at me and am cool, everybody staring at me and am cool, taulah gaya kebanyakan seleb karbitan Indo kalau lagi di mall. Sayangnya tidak, mas Erlend malah enjoy dengan tulusnya di Jaya pub malam itu. Dia appreciate musik apa pun yang dimainkan oleh siapa pun. Alih-alih merendahkan dia malah menikmati betul dengan ekspresif. Ahmad Dhani si banci sok sufi itu seharusnya malu. Musiknya yang baru dikenal seNusantara saja sombongnya sudah bukan main, begitu pula mukanya juga bukan main : bukan main perlu ditampol kanan kiri.

Setelah lagu ketiga Rock n Roll Mafia gue udah gak kuat lagi, dan memaksakan diri untuk segera pulang. Padahal kata si Bo ada surprise concert di akhir acara, Whitest Boy Alive main for free ! Tapi tak apa, gue juga tidak terlalu menggemari Whitest Boy Alive sebenarnya. One lesson to be learnt, betapa humble betul si mas Erlend Øye itu. Mas Erlend, saya bungkuk hormat untuk anda.





*) picture courtesy of www.farm3.flickr.com, yang asli masih nunggu dari Oxa.

Labels:

5 Comments:

Anonymous pakiki said...

King of Convenience yang itu?? saya ga ngikuti scene indie, tapi alangkah hebatnya bang Erlend...dan sungguh perbandingan yang cucok kalo disandingkan sama Ahmad "Setara Ismail Marzuki" Dhani...

tabik, penggemar tulisan anda....

12:31 AM  
Blogger memeth said...

edyaaaaaannnn, erlend yg kings of convenience ??? ARRRGGHHHH...AARGGHHHH...... you're so lucky-lucky-lucky....

videonya diunduh ke youtube doms, dep. gw penasaran

11:14 PM  
Anonymous Anonymous said...

Bu bu, santai dong. You freaking me out, hehehehe..

12:24 PM  
Anonymous diandiam said...

Wew, wis apdet meneh ya, Om..? Ada Erlend Øye pulak! It's tremendous... Trus liputan tentang Tom Delounge yang maen ke Jakarta gimana, Om? Hehe...

Saia pengagum blog Om sejak lama. Tapi sekarang baru sempat komen. He.. Salam kenal seko Yujo :)

6:32 AM  
Blogger om idep said...

Weh kok ngerti aku nonton AVA ? padahal ra ono koncone dewekan niate meski akhire ketemu cah2 neng kono. (enak bener nih ngomong jogja lagi)

7:28 AM  

Post a Comment

<< Home