Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Saturday, October 10, 2009

Hey, This is UK !











Tahukah anda negara mana yang memiliki jumlah universitas terbanyak di Dunia. Amerika ? Jepang ? Jerman ? Um um nope, jangan kaget tidak disangka negara dengan jumlah universitas terbanyak di dunia adalah : India. Seriously. Karena itulah alasan mengapa saya memutuskan mengambil master di Inggris (lah ?!). Karena Inggris adalah negara dengan imigran India terbanyak di planet bumi. Loh tidak ada hubungannya memang, meskipun bisa saja kalau ingin dipaksakan : begitu hebatnya magnet pendidikan Inggris sehingga masih bisa sangat menarik pemuda-pemudi dari suatu negara dengan jumlah universitas terbanyak di dunia. Baiklah itu memang terdengar cukup maksa. Tapi yang jelas saya punya beberapa alasan kenapa United Kingdom (selanjutnya UK) sebagai tujuan pendidikan saya.

1. Biaya. Banyak yang tidak tahu. Biaya master di UK itu bisa lebih murah jika dibandingkan dengan destinasi pendidikan luar negri populer lainnya, taruhlah Australia. Memang sih sepintas kurs poundsterling lebih mahal dibanding dollar Australia. Salah kaprah inilah yang sering membuat kesan belajar di Inggris jadi mahal tak masuk akal. Tapi jika dihitung lebih lanjut maka jangka waktu satu tahun untuk master di Inggris relatif sama atau malah lebih murah dengan master satu setengah tahun di Australia. Hei, saya serius. Saya tidak sedang jualan kecap menggombal seperti agen konsultan di pameran pendidikan kebanyakan. Mari kita coba hitung. Saya mengkonversi GBP dan AUD semuanya ke USD, maka kira-kira begini : admission fee University of Manchester sebesar USD 19,550 (untuk satu tahun master) sedang Monash University USD 22,890 (untuk satu setengah tahun master). Biaya hidup kuliah setahun di UK (saya ambil dari internet) rata-rata sebesar USD 13,328 sedang Australia (saya ambil dari situs IDP ) untuk 1.5 tahun adalah USD 16,275. Jadi jika ditotal USD 32,878 untuk selesai master di Manchester sedang USD 39,165 untuk di Melbourne. Harap diingat apple to apple comparison disini adalah biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu master, bukannya membandingkan biaya yang dibutuhkan tiap tahun. See ? sedikit lebih rendah kan.

2. Reputasi. Tidak bisa disangkal UK memiliki sejarah pendidikan yang sudah lama dan cukup tua. Dengan adanya 2 dari 10 Universitas tertua di dunia : Oxford (est. 1167) dan Cambridge (est. 1209). Oh, tentu saya cukup tahu diri dan rasional kok untuk tidak mendaftar ke dua universitas tersebut, tapi setidaknya universitas top 5 atau 10 sajalah. Karena jelas saya tidak akan menempuh 10,872 km, 18 jam penerbangan kelas ekonomi yang membosankan hanya untuk belajar di common local university disana. Atau jika ingin dilihat dari jumlah peraih nobel (1901 – 2005). Setelah Amerika Serikat, Inggris berikutnya terbanyak dengan memiliki 21 peraih nobel Kedokteran, 19 nobel Fisika dan 22 nobel Kimia. Itu cukup menunjukan bagaimana negara ini kental dengan tradisi pendidikan tinggi dan riset. Tapi reputasi elit ini akan berbanding lurus pula dengan usaha. Konsekuensinya belajar yang lebih fokus. Waktu kuliah master di UK memang lebih pendek 6 bulan dibanding negara lain, artinya ada 10 mata kuliah yang harus dikunyah hanya dalam waktu 10 bulan. Itu masih diluar tesis. Atau assignment pertama pada hari kedua perkuliahan yang cukup membuat stres. Jadwal disini padat dan butuh kerja keras memang. Tapi tenang saja, kesempatan jalan-jalan pasti akan selalu ada dan bisa dicari. Sangat bisa.

3. Musik. Ketika presentasi di depan orang tua saya, saya selalu bargumentasi sok analitis menjabarkan dan menjelaskan kelebihan biaya dan reputasi kuliah di UK. Bahkan SWOT analysis segala. Tapi sebenarnya inilah alasan utama kenapa UK. Manchester. Karena Manchester adalah Mekkah buat saya. Manchester dengan lusinan band-band legendarisnya yang hingga kini masih menjadi inspirasi dan memberi pengaruh ke seluruh dunia. Manchester sejatinya adalah tentang Madchester sound. Kota-kota lain seantero UK pun sama saja, mulai London hingga Bristol, Cardiff hingga Aberdeen. UK akan selalu menjadi pusat referensi banyak musisi saat ini. Ada sedikit perasaan aneh dan merinding nanti membayangkan bisa berjalan di trotoar yang sama yang pernah dilewati Bernard Sumner (New Order), memakan Fish and Chip di kedai yang sama dimana Lisa Stanfield juga sering memesan, sunbathing di taman tempat Morissey (the Smiths) biasa mencari inspirasi atau nongkrong di Tavern yang sama dimana Liam dan Noel (Oasis) muda masih luntang-lantung. Ya Tuhan, tak pernah terbayangkan sebelumnya ketika SMA dulu akan mendapat kesempatan ini. Masa ketika itu hanya mampu memutar kaset bajakan Stone Roses bolak-balik dan nanti saya akan benar-benar berdiri di depan the Hacienda, klub legendaris bagi kaum jamaah Manchesteriyah. Puji Tuhan Alhamdulillah.

4. Bola. Siapa yang berani meragukan liga Inggris Premiership saat ini ? Dominasi klub-klub Inggris di liga Champion Eropa sudah cukup untuk menunjukan reputasi Premiership sebagai salah satu liga terbaik di muka bumi. Tapi saya tidak perduli karena toh saya tidak begitu gemar menonton bola. Meskipun nanti fakta anda tinggal di negara bola ini akan cukup membantu sebagai bahan pembuka bahan pembicaraan dengan wanita-wanita ABG yang anda temui di facebook. Social engineering. Anggap saja ini opportunity sekaligus rejeki. Karena pada akhirnya saya sering menerima puluhan message bernada sama : “hi kamu ! lagi di UK ya ? wah enak dong bisa nonton Lampard tiap hari, add YM aku ya, MSN ada gak” (?!). Tapi sumpah demi Tuhan, reputasi sebagai negara bola ini tidak pernah menjadi salah satu alasan saya dalam memilih UK untuk pendidikan Master saya. Lagi pula sudah sedari dulu saya penggemar berat Liverpool bukan Manchester. Amit-amit setan merah.

5. This is UK. Pada akhirnya ini adalah UK. Bahkan tidak perlu ada Oxford dan Cambridge sekalipun, tidak perlu ada puluhan penerima nobel, tidak perlu ada Ian Brown, tidak perlu ada Steven Gerrard disini karena ini adalah UK. Gaya berbicara dan aksen yang janggal, mod culture, gedung-gedung yang berusia ratusan tahun, minum di pub karena Starbucks akan selalu lekas tutup sore hari, Kari dan Tandoori adalah makanan nasional, nikmatnya libur extra setiap kali banks holiday, keripik Walkers dan bir dingin dari Tesco atau Sansburry, Greggs yang hambar sebagai menu sehari-hari, band-band keren bermain sepanjang minggu, black cab dan double decker. Di UK anda tidak hanya akan belajar, anda akan menemukan kehidupan unik anda yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Membuat anda berharap tahun ajaran adalah momen ajaib yang selalu rekursif berulang yang artinya anda akan dapat tinggal lebih lama. Berulang dan lebih lama lagi. Hei, ini adalah UK. Percayalah.


Labels: ,

Sunday, December 14, 2008

Love Like Rockets (AVA, 2007)

Waktu itu jam 11 malem ketika gue baca sms dari temen gue bilang kalo tiket AVA udah abis. Posisi gue kira-kira di Nagrek, baru pulang dari Jogja, masih tiga jam-an dari Jakarta. Brengsek. Bukan buat temen gue itu tapi buat gue yang selau nunda-nunda beli tiket dari beberapa minggu yang lalu.


















Ah tapi gue gak akan menyerah begitu saja, pagi harinya gue langsung googling semua tiket box seluruh Jakarta, mencari yang terdekat. Gue telponin satu demi satu, beberapa masih ada (sayangnya festival) tapi hampir sebagian besar sudah tutup : mereka bilang tiket box sudah buka jam 2 di Senayan, silahkan beli di tempat yang sudah disediakan. Tapi gue pengennya tribun bukan festival – selain umur toh AVA bukan musik untuk moshing dan bodysurfing – karena berdiri umpek-umpekan sepanjang show artinya kehilangan momen merem melek menikmati ambience Star of Betlehem (yang turn out gak dimainin malam itu, sigh). Puji Tuhan Alhamdulillah akhirnya gue dapet di bu Dibyo, agak ilegal karena si mas-mas minta ketemuan di luar gedung, dia propose 450 sedang gue bersikeras eat my ass I have got festival already. Akhirnya kami sepakat 385, harga normal. Yeay. Padahal gue juga udah niat tetap akan mengambil kalau dia ngotot gak mau lepas. I am the negotiator.

Gue memang menggemari Tom Delonge sebagaimana River Cuomo, Bernard Summer, Freddie Mercury pun Paul McCartney. For me they are prophets, semua lagu mereka adalah bagus. Sejak tahun 1995 masa-masa album Budha dan drummer Blink 182 masih Scott Raynor. Tidak peduli (bagi beberapa scene indie) dianggap mendengarkan band-band sell out berarti tidak memiliki selera yang bagus. Pola pikir yang aneh, gue heran dengan orang yang ingin out of crowd : begitu sebuah musik atau band indie menjadi sell out maka segera dicap memalukan kalau sampai suka, karena sudah pasaran, sudah gak eksklusif lagi. Padahal kalau mau benar-benar indie, mereka harusnya membeli album-album pop daerah semacam Trio Ambisi, Ajo Andre Upiak Kamek atau Danny Pelo. Dijamin itu semua musik daerah yang orisinil dengan semangat juang indie yang recording sendiri. Lagipula dengan menonton band-band sell out artinya akan banyak ABG bertebaran. Sukur-sukur berpakaian minim. Tidak ada yang dirugikan. Sejak maghrib gue sudah sampai di tennis indoor Senayan yang lumayan padat, mobil gue parkir diujung yang sudah dekat ke stadion, agak deg-degan karena ada pertandingan bola. May the force be with my car. Gue berjumpa dengan Renata dan Windy - sepupunya – yang secara baik hati mau bertukar tiket ke tribun jadi gue selamat batal jadi freak in a gig nonton konser sendirian. Kita langsung aja masuk biar bisa dapet tempat strategis. Di festival masih lengang, baru sekumpulan ABG-ABG yang udah – mungkin dari sore tadi – ngetekin berdiri persis di depan stage. Sedang tribun tengah sudah mulai penuh. Backdrop AVA adalah semacam bendera Amerika, untung Roy Suryo gak nonton kalau gak bisa-bisa dia ngadu lagi. Juga ada beberapa kain panjang di bentangkan di langit-langit yang jadi seperti stripe, sangat Amerika sekali. Kita menunggu sekitar setengah jaman. Ada Eno Netral, tampan ganteng. Sama ceweknya, yang biasa aja (gak penting, skip).

Akhirnya satu persatu personil AVA muncul, si Tom sempat pemanasan sebentar dengan pose yang aneh seperti mau aerobik. Dodol. Malam itu dibuka dengan Call to Arms, anthem AVA di trailler I-Empire. Seperti yang sudah gue duga vokal Tom memang jelek kalau live, suara dia yang quacky memang hanya cocok untuk recording. Tapi siapa yang peduli. Aksi Tom juga gak seperti yang gue bayangkan setiap kali mendengarkan AVA sambil mati lampu dan make headset kenceng-kenceng kalau lagi stres. Gue membayangkan Tom di AVA akan berbeda dengan Tom di Blink. Sama halnya ketika dia mendadak keluar dari Blink yang sedang di puncak karir. Ketika his egocentric to deliver messages through music seperti Lia Eden yang kesambet jin Tomang. Juga sebagaimana dia kepikiran memakai sound gitar delay, nationalist, konsep dan ambience yang berbeda betul dengan Blink. Gue membayangkan dia akan berdiri elegan kalem ketika menyanyikan Love Like Rockets, Secret Crowds atau pun Heaven. Tapi ternyata tidak, masih Tom yang sama, masih pose, aksi konyol dan celotehan kasar yang sama. Hanya bedanya tidak ada Mark Hoppus saat itu. Ketika jeda Tom bawain cover There Is-nya Box Car Racer sama Reckless Abandon-nya Blink. Past good old days Tom. Sayang David Keneddy tampak beberapa kali mengalami masalah, setelan efeknya suka hilang. Efek delay khas the Edge U2 seringkali gak begitu kedengeran. Satu persatu single-single AVA mengalir (tidak ada Star of Betlehem tentu saja, padahal mau dekat Natal ya). Di awal interaksi Tom sedikit banget, jeda lagu ke lagu cuman sebentar, tapi mulai mencair di tengah-tengah show. Tradisi we want more yang sebenarnya sudah basi : ya iyalah kalo konser udah selese itu lampu akan nyala terang benderang, kalo setelah goodbye Jakarta dan masih gelap itu mah keliatan banget. Akhirnya di tutup dengan Heaven, konser AVA berlangsung cepat sekali, hanya satu jam kurang lebih. Orang yang gak ngefans sama AVA pasti akan menganggap show malam itu sampah tapi bagi gue Tom Delonge will always be Tom. Just like Cuomo or McCartney. Tom, Mark, Travis dan semua side project mereka akan selalu gue tunggu. Semoga saja Java Musikindo bisa membawa Plus 44 untuk kesempatan berikutnya.


Labels:

Thursday, December 04, 2008

The Gorgeousless Traveller (Jaya Pub : In Indie Scene, Nobody Superstar)

Gue sudah demam dua hari. Tetapi karena terlanjur berjanji untuk berjumpa kawan yang tertunda berkali-kali – dia baru pulang dari Oxford – tetap saja gue paksakan keluar malam senin itu. Malam yang seharusnya haram untuk keluar, yang akan jauh bermanfaat kalo stay di rumah guna menyiapkan mental hari senin besoknya. Gue hanya sedang kehabisan excuse.















Kebetulan ada White Shoes and The Couples Company (here after: White Shoes) di Jaya pub, jadi sekalian sajalah berjumpa dia disana, sekalian bersama Yudi Bo dan rekan. Jaya pub berlokasi di gedung Jaya di daerah Sarinah, gedung perkantoran yang sudah melewati masa keemasannya. Posisi Jaya pub ada di pojok depan area parkir yang bersebelahan dengan Kali Krukut. Dari luar penampilan luarnya Jaya pub ini tampak mesum dan murahan, apalagi dengan lampu kuning remang-remang yang membuat pub Dangdut Asmoro di Blora jadi tampak modern. Gue datang terlambat, Vincent Vega sudah membawakan lagu ketiganya. Tapi gue gak begitu serius untuk menyimak mereka karena terlalu sibuk mengamati dan menikmati ambience interior Jaya pub. Ini pub ternyata lumayan juga. Vintage yang orisinil. Maksud gue begini, kita bisa saja menemukan banyak kafe, pub atau tempat nongkrong yang beraksen retro di seantero Jakarta. Tapi Jaya pub ini sedikit berbeda, dia tidak berusaha sedikit pun untuk tampil retro atau vintage karena memang udah dasarnya pub jadul aja gitu. Sepertinya Jaya pub ini tidak mengikuti perkembangan jaman. Walhasil semua item dan ornamennya menjadi orisinil vintage, bukan retro yang dibuat-buat atas nama gaya interior. Ada bohlam lima watt warna-warni di dinding, juga diatas stage sebagai bukti nyata bagaimana pub ini bertahan tidak mengikuti perubahan trend interior. Dimasa itu memang lampu warna-warni ala Aneka Ria Safari sudah bergaya. Beberapa foto rocker wanita yang gak bisa gue kenali, poster foto model berambut megaloman dan pakaian safari kantor, kata-kata berusaha Inggris yang norak tapi malah jadi menarik, waiter yang sudah sepuh-sepuh, meja bilyard butut, terompet tukang roti dimana-mana, plakat-plakat yang mungkin seumuran sama gue (baca : 24 tahun. lol). Sepertinya kalau foto prewed disini suatu hari nanti ok juga nih (amin).

White Shoes lumayan meski gak didukung sound Jaya pub yang agak ngos-ngosan malam itu. Lagi pula tipikal musik White Shoes toh tidak memerlukan sound berkualitas prima, mereka memang sengaja mengambil sound-sound film roman lama. Saleh dan Sari tampil paling ekspresif. Meski sama-sama retro, White Shoes agak berbeda dengan Naif karena spirit retro yang dibawakan tidaklah sama. Malam itu lumayan padat tapi masih ok lah, maksud gue lo masih bisa jalan tanpa harus permisi berkali-kali. Agak padat memang, syukur-syukur lo bisa menyenggol susu kalau kebetulan agak sempit. Ternyata di antara hadirin ada Erlend Øye. Whitest Boy Alive kan memang baru manggung sehari sebelumnya di Bengkel Night Park. Menarik juga. Begini hebatnya Indie scene. Nobody is superstar. Mas Erlend begeng itu petakilan aja keliaran diantara kita, just like common people. Dan kita pun juga gak norak langsung minta tanda tangan foto bareng dsb. Oiya satu lagi, sepanjang White Shoes main, mas Erlend juga asik sendiri dengan dancing, lompat-lompat as if he do really a big fans of the band. Sebagai personel King of Convenience seharusnya dia GR ngerasa everybody looking at me and am cool, everybody staring at me and am cool, taulah gaya kebanyakan seleb karbitan Indo kalau lagi di mall. Sayangnya tidak, mas Erlend malah enjoy dengan tulusnya di Jaya pub malam itu. Dia appreciate musik apa pun yang dimainkan oleh siapa pun. Alih-alih merendahkan dia malah menikmati betul dengan ekspresif. Ahmad Dhani si banci sok sufi itu seharusnya malu. Musiknya yang baru dikenal seNusantara saja sombongnya sudah bukan main, begitu pula mukanya juga bukan main : bukan main perlu ditampol kanan kiri.

Setelah lagu ketiga Rock n Roll Mafia gue udah gak kuat lagi, dan memaksakan diri untuk segera pulang. Padahal kata si Bo ada surprise concert di akhir acara, Whitest Boy Alive main for free ! Tapi tak apa, gue juga tidak terlalu menggemari Whitest Boy Alive sebenarnya. One lesson to be learnt, betapa humble betul si mas Erlend Øye itu. Mas Erlend, saya bungkuk hormat untuk anda.





*) picture courtesy of www.farm3.flickr.com, yang asli masih nunggu dari Oxa.

Labels:

Tuesday, September 02, 2008

The Gorgeousless Traveller (XC : Jayagiri)

Gue suka gunung - diluar gunung-gunung yang disukai semua pria normal tentu saja - maksud gue adalah gunung hutan, gunung beneran disini. Sejak dari TK meluncur dari bukit-bukit di TMII, SD bermain di hutan wanagama akhir pekan dianter papi adalah waktu yang dinanti-nanti, SMA libur panjang naik gunung juga demikian. Gunung indah ciptaan Tuhan. Semua gunung itu indah. Semua.
















Dan sabtu kemarin adalah orgasme kedua setelah main basket, main XC di Tangkuban Perahu – Jayagiri – Lembang – Maribaya – Bandung. Orgasme yang sebenar-benarnya. Kali ini kita main bareng sama anak-anak Bandung All Mountain (BAM) dan Gading All Mountain (GAM). Trek pertama yang langung aja nanjak memaksa kita untuk harus turun dan nuntun sepeda. Hutan basah, becek dan gelap karena banyak kanopi tinggi lumayan bikin males karena belum apa-apa kok udah nuntun gini (ngisin-ngisini tenan). Tapi beruntung itu hanya beberapa saat saja karena trek selanjutnya cenderung datar dan menurun. Sampai ketika keluar dari hutan kita sampai di trek tanah yang kering dan menurun, hore ! Vegetasinya yang relatif cemara dengan tanah kering dan keras membuat sepeda kami semakin mudah lajunya, maka makin rajinlah mainin rem dan yang terpenting mengatur napsu supaya jangan ngebut gila. Bukannya apa-apa, kesepakatan dari awal kita jaraknya deket-deket, jadi khawatir bisa nabrak kalau lupa diri laju. Akhirnya sampai juga di check point pertama - warung - kita ada di perempatan antara Jayagiri 1 dan Jayagiri 2. Konon Jayagiri 2 lebih menantang dengan trek tangga dari akar-akar pohon yang akan memaksa kita untuk lompat-lompat. Mungkin lain waktu saja karena kami sejak awal sudah sepakat untuk melalui Jayagiri 1. Kita sempet ketemu rombongan motor trail, dengan suara bising dan asep-asep mesin dua tak mereka, heran orang macam apa yang menganggap main motor trail di hutan adalah kegiatan jantan. Yang ada malah polusi suara sama udara, kalau kami insyaAllah polusi suara aja, dengan cekakan, nyangkem cela-celaan sepanjang jalan, tapi setidaknya bukan raungan mesin dua tak dan tanpa asap. Kembali ke Jayagiri 1 adalah trek menurun dengan batu-batu tajam menonjol disana-sini, kita murni harus angkat pantat kalau gak mau resiko turun berok. Jancuk ! frame gue yang gak fullsus dengan ban tapak kecil lumayan bikin pegel juga apalagi gue gak make protektor sama sekali lumayan bikin parno amit-amit jangan sampe jatoh. Tetapi tetap saja banyak-banyak ngerem adalah dosa besar di setiap trek turunan, berasa naik bajaj goyangannya. Selanjutnya adalah trek lumut dan tanah liat, bagi gue trek ini adalah primadona XC kali ini. Sampai pengen pipis di celana saking bergairahnya, tanah empuk lumayan lebar yang benar-benar bikin kita meluncur lupa diri. Sehabis itu turunan makin curam dan makin sempit di kontur cerukan jadi kita sedikit melambat. Lumut di permukaan bikin kita selip dengan mudahnya setiap kali ngerem terlalu banyak. Dan selesailah trek Jayagiri berbarengan dengan munculnya kami di Ayam Brebes Lembang. Waktunya isi perut. Tapi entah karena barusan saja merasakan orgasme atau memang ayamnya yang biasa aja yang jelas gue sama sekali gak menikmati makan siang kali itu. Tidak sabar untuk lanjut ke trek Maribaya berikutnya.














Kita berangkat dari Maribaya beberapa ratus meter sebelum air terjun, awalnya sih keliatan ok dengan trek batu-batu kapur tumpul dan sedikit licin (karena sempat hujan gerimis yang membuat lumutnya semakin licin). Tapi karakter trek ini agak beda, karena lebih curam dan bersisian dengan jurang justru bikin kita banyak main rem ngesot sanangesot sini. Seru sih, karena bagi gue semua trek turunan adalah seru dibanding tanjakan. Tetapi sesampainya di bibir bawah turunan licin itu, kita disajikan trek conblok selebar satu meteran. Lumayan garing apalagi ada tanjakan beberapa kali. Hanya disini pemandangannya lumayan menghibur karena Maribaya ada di semacam bibir ngarai mini, kalau memang bisa dibilang ngarai. Sempat ada beberapa turunan panjang yang lagi-lagi bikin kita asyik masyuk. Asli, kita itu semacam kumpulan om-om tua yang kelakuan seperti bocah, setiap kali ada turunan setiap kali itu pula kita berseri-seri dan lupa diri. Sebelum akhinya kita sampai di gua Belanda dan ada satu kali kesempatan jump. Woohoo ! Dari gua Belanda seatpost dikembalikan ke setelan maksimum lagi karena trek full tanjakan di depan sebelum akhirnya sampai di Dago Pakar. Dari situ bisa dibilang permainan hari itu sudah selesai karena kita hanya tinggal meluncur saja dari Dago Pakar, Istana Dago, Pasar Dago lalu belok kanan ke arah Babakan Siliwangi. Sebelum kembali ke Jakarta kita sempet mampir ke Triple-B di burangrang. Ini toko emang bangke, potensi bikin miskin karena gelap mata besar sekali. Gue nemu frame ijo tentara keluaran Da Boomb yang udah gue incer. Tapi untung sempet menahan diri. Akhirnya kita sampai di Jakarta jam 12 malem. Capek gila tapi gue bener-bener puas hari itu : pengorbanan bangun pagi buta ngerapiin si item, nganggurin pacar yang sudah jauh-jauh berkunjung ke Jakarta, apalagi bela-belain gak main Basket adalah worth enough. Semakin adiksi. Sayang bulan puasa persis masuk hari senin nanti, mungkin bakal ditunda sebulan dulu atau pun kalau gue nekat join nite ride dua minggu lagi nanti di Puncak. Nekat disini bukannya apa-apa ya, gue cuman serem sama kuntilanak aja kalo pas keteteran di tengah-tengah ntar : temen jauh di depan jauh dan di belakang. Serem aja. Ah tapi sudahlah lebih baik khusuk konsentrasi dahulu menyambut puasa, have a blessing Ramadhan !



Labels:

Wednesday, April 30, 2008

The Gorgeousless Traveller (Sore : Menonton Sore)
















Gue selalu ingin segera sampai di rumah setiap kali bubar kantor, kecuali Jumat di akhir pekan tentu saja. Tapi kamis sore itu, adanya tiket invitation untuk menonton launching album terbaru Sore adalah sesuatu yang tidak bisa dilewatkan. Yudi Nugroho memang selalu menjadi andalan gue untuk urusan beginian : musik dan gigs, kadang juga bokep (untuk yang terakhir ini kita sebenarnya berbeda aliran, dia super duper hardcore sedang saya softcore). Pukul setengah enam gue sudah tenggo bersama Ian menuju PPH Umar Ismail di daerah Kuningan. Tertulis acara akan dimulai pukul 19:00, jadi masih ada waktu untuk batalin puasa di Pasar Festival. Karena, menonton konser dengan perut lapar tidak baik untuk kesehatanmu.

Sepertinya acara akan terlambat dimulai, suatu hal yang biasa sih. Tapi tak apa, venue malam itu dipenuhi banyak gadis-gadis muda belia lucu-lucu dengan dandanan masa kini. Huh, tiba-tiba gue merasa begitu tuanya, om-om botak, beransel, kucel setelah seharian membanting tulang dan dengan dengan kostum kantoran culun. Tapi tak apa, mengagumi ciptaan Tuhan bukanlah sesuatu hal yang buruk (mengagumi = curi-curi pandang mati-matian menahan mupeng). Acara launching Sore ini disponsori Dunhill, karena itu disediakan lounge ala kadarnya di sebelah kiri pintu masuk. Semua tiket, baik Invitation ataupun yang beli juga sudah termasuk satu botol minuman beralkohol. Asap rokok dimana-mana, gak nyaman. ABG-ABG muda dimana-mana, nyaman. Sudah tidak sabar menunggu gate dibuka. Kabar baiknya adalah konser ini diadakan di auditorium PPH Umar Ismail, jadi tidak perlulah ketakutan untuk berebut tempat, karena toh kita sudah diberi nomor tempat duduk masing-masing. Sore bermain full set malam itu. Lengkap dengan brass section dan string section yang lumayan ramai di sebelah kanan panggung.
Ada movie screen di belakang yang bakal jadi Film Noir nantinya selama konser berjalan. Dan akhirnya satu persatu personel memasuki panggung : Awan Garnida, Ade Firza, Gusti Pramudya, Reza Dwiputranto dan Mondo Gascaro. Dibuka dengan “Bogor Biru” Sore bermain santai malam itu, seperti yang sudah-sudah. Sedikit naratif Awan selalu membuka lagu, sedikit cerita, lalu berkelakar, menghibur. Sounds sore yang vintage, jazzy dan distorsi riff gitar makin terasa dengan adanya potongan-potongan Film Noir di latar belakang mereka. Seperti biasa, semua personel Sore mendapat jatah menjadi lead vocal dan bahkan Gusti Pramudya pun bisa jadi Eza Yayang : drummer yang bernyanyi, eh apa Phill Collins ya ?

Sore memang salah sedikit band yang berkelas. Maksud gue banyak band-band Indie saat ini yang awalnya memang tampak berkelas tetapi dari perspektif tertentu mungkin justru lebih hebat Kangen band dalam hal orisinilitas.
Ada yang begitu the Strokes, begitu Club 8, begitu Coldplay, begitu Hellogoodbye dan wanna be-wanna be lainnya. Ini berbeda dengan Sore yang sukses mengkombinasikan progresif rock, blue note jazz, blues, pop dan sentuhan keroncong Indonesia, struktur yang gak standard tapi tetap saja ringan untuk dicerna (Eric Wiryanata, 2008). Seterusnya track-track dari Ports of Lima mengalir begitu saja dengan sedikit special jam session bersama Andi Tielman. Akhirnya semua track di Ports of Lima selesai dibawakan (set list malam itu : Bogor Biru, Vrijeman, Apatis Ria, Come By Sanjurou, Essensimo, Layu, In 1997 the Bullet was Shy, Merintih Perih, 400 Elegi, Senyum dari Selatan, Karolina, Setengah Lima, Ernestito). Sore menutup malam itu dengan Pergi Tanpa Pesan dan No Fruits for Today secara interkatif. Terimakasih Sore untuk suguhan musik yang berkelas. Semoga kalian selalu dalam kondisi sehat agar tetap bisa membuat karya yang penuh manfaat.


Labels:

Wednesday, February 27, 2008

The Gorgeousless Traveller (Rotterdam I : Google Map Juga Manusia)

“Pertama. Troley yang gue coba jadiin bantal, gak enak. Trus gue ganti ransel gue, masih tetep gak enak. Eksperimen bantal terakhir : jaket andalan gue gulung-gulung, lumayan sekarang tapi jadi dingin. Kampret ! kenapa sih airlines suka sok rajin bikin flight jam 6 pagi ! terpaksa deh gue nginep di bandara. Sendirian, karena si Fredo naik flight yang siangan jadi dia masih bisa tidur nyaman di hostel. Tapi gue gak sendiri malam itu, ada banyak pasangan sih. Karena pasangan, jadi jangan ngiri dong kalo mereka peluk-pelukan tidurnya malam itu. Oh so sweet dan gue cuman bisa meluk ransel. Asli gue mati gaya malam itu, bahkan lagu-lagu andalan di ipod pun gak mempan” (Barcelona International Airport, September 2007).














Dari Barcelona gue berencana ke Rotterdam, kota terakhir rangkaian Eurotrip kali ini. Seperti biasa disana nanti gue bakal numpang nginep di tempat temen lagi. Tepatnya sih temen virtual gue karena kita sama sekali belum pernah bertemu muka. Beliau gue kenal lewat blog, anak Stuned yang lagi ngambil Master di Erasmus. Orangnya baik banget dan sangat njawani, atas invitation letter dari beliau visa gue nembus. Flight gue jam 6 pagi jadi terpaksa nginep di bandara Barcelona. Gue sengaja ke Amsterdam dulu karena gak ada cheap flight yang langsung ke Rotterdam. Lagian di Belanda, kereta api murah dan presisi tepat waktunya bukan main, persis ketika jarum detik bergerak ke angka 12 dan kereta bener-bener berangkat. Hebat. Schipool – seperti kebanyakan bandara Internasional lain di planet bumi - terintegrasi sama coach stasion dan kereta ke berbagai kota besar di Belanda. Gue gak ngerti alasan apa yang bikin bandara kebanggaan Indonesia yang boro-boro maju bisa memiliki fasilitas yang sama lengkap, yang ada malah makin butut dan semrawut lengkap dengan calo dan ojek sekarang ini. Belum lagi banjir yang mutusin akses masuk utama.

Model kereta di Belanda agak lain dengan yang di UK, hampir semua gerbongnya bertingkat dua dengan pintu masuk yang di tengah-tengah nanggung posisinya atau malah gerbong yang berkabin kayak kereta ke Hogwart gitu. Kita bisa milih turun ke lantai satu atau naik ke lantai dua. Semuanya bersih dan nyaman. Amsterdam - Rotterdam butuh waktu sekitar setengah jaman. Cuaca agak mendung waktu itu habis hujan, masih ada sisa gerimis sedikit. Tapi pemandangannya malah jadi bagus, banyak pelangi muncul di lanskap bumi Belanda yang datar. Kalo ada cewek pasti langsung gue tembak, asli suasananya melo banget kayak di kartun-kartun Jepang T_T. Sebenernya gue bisa betah berjam-jam duduk bengong ngeliatin pemandangan apalagi ini daerah yang asing buat gue tapi sayang udah keburu nyampe. Setelah ngelewatin Den Haag dan Utrecth akhirnya sampai juga. Di Rotterdam CS gak ada yang jemput karena gue emang sengaja gak minta dijemput, ceritanya mbagusi mau sok-sokan dengan ujug-ujug nongol di hall temen gue itu, kayak waktu gue pertama kali nyampe di London dulu: first time Heathrow alone experience.

Gue emang pede berat kalo nemuin hall dia adalah pekerjaan yang mudah karena udah ngandelin print-printan Google map. Tipikal stasiun di Belanda bener-bener mirip yang ada di Indonesia, selalu punya dua sisi depan belakang (tau kan model stasiun tugu dan stasiun Hall di Bandung yang juga kayak gitu). Gue keluar lewat stasiun belakang, nyusurin Stasionsingel sebelum jadi jalan yang lebih kecil statenpad. Menurut peta, Weenapad berada persis di ujung Statenpad, di huk gitu. Idep, lo memang traveler canggih ! gue mencet-mencet nomer bel kamar temen gue tapi gak da jawaban. Di student hall jarang ada resepsionis, di depan cuman disediain interkom dengan nomor-nomor kamar yang mau kita kunjungi. Karena itu gue gak bisa langsung masuk aja, dikunci. Waktu ada mahasiswa lain yang masuk dan dengan pedenya gue minta ijin buat nebeng dengan ngejelasin gue juga mau ke kamar temen gue. Dia percaya aja dan bilang emang dia pernah liat Indonesians di hall tersebut. Masih dengan lagak pede berat gue langsung naik ke lantai tiga, sesuai kode nomor kamar harusnya sih ada di lantai tiga. Setiap kamar di hall itu punya bel sendiri-sendiri di sepanjang lorong flat. Karena yakin gue udah berada di hall yang tepat langsung aja gue pencet itu bel, kadang lama kadang bentar, kadang gue bikin pola panjang pendek gitu, kadang gue main-mainin ngikutin irama lagu, biasalah tipikal gue emang suka iseng gak penting.

Tapi kok tetep ra ono sing metu ya ? gue cek lagi nomer kamar udah bener, nama jalan juga udah bener. Ah mungkin lagi boker ato gak lagi keluar sebentar, ya udah gue duduk-duduk lesehan di depan pintu kayak gembel. Kadang-kadang rebahan. Sesekali push up. Atau gak mainan bel lagi. Udah 15 menitan kok masih gak ada yang bukain ya, gue mulai curiga, rekor boker terlama itu setau gue cuman sepuluh menitan. Kalo dia pergi keluar pun gak mungkin jauh-jauh soalnya gue udah bilang kemarin bakal nyampe Rotterdam around lunch time. Gue mulai panik, jangan-jangan gue di gedung yang salah. Akhirnya gue nyerah gengsi dan terpaksa nelpon temen gue (dengan nomor UK tentu aja, bangkrut mak roamingnya gak nahan). Gue jelasin lokasi gue, bagaiman tadi gue jalan dari stasiun tadi sampai ke hall, biar dia ada gambaran bisa ngebayangin lokasi gue sekarang. Hening sejenak. Sampai akhirnya temen gue ngomong, “Dep mulakno dadi wong ra sah mbagusi, sok-sokan, kemaki , ra gelem dipetuk barang, koe ki saiki neng hall-e sopo su, waton, ngawur, gek ndang metuo, mending koe mbalek nang stasiun tak petuk wae”. Huaaaa bedul, berarti sekarang gue ini neng omahe sopo ?! becoming stranger di hall orang dong ?! Mati gue, ada berapa CCTV tadi di depan dan mungkin juga di lorong, dan udah berapa kali gue main-mainin bel, kelekaran di depan pintu kayak gembel, pake lompat-lompatan segala. Kalau misalnya ada orang di kamar yang gue bel-bel tadi pasti dia sedang panik nelponin security karena ada asia kribo tak dikenal yang ngendon celamitan petakilan di depan kamarnya. Waduh mak, gak lucu deh kalo gue sampe harus belepotan ngejelasin alasan konyol gue ke local police.


Beberapa detik selanjutnya gue sedang lari terbirit-birit ngabur keluar dari hall, secepat kilat.

Labels:

Tuesday, January 01, 2008

The Gorgeousless Traveller (Scotland II : Edinburgh)

…Sejam lagi masuk tahun baru 2007: kita kedinginan di mobil yang jalannya lelet karena ujan dan kabut, lembab, laper, bau asem, gelap sepi, middle of nowhere karena Edinburgh udah sejam jauhnya dibelakang sedang Newcastle masih lumayan jauh didepan, Angel of The North yang harusnya keren pun keliatan gothic pas kita lewatin (bisa jadi kita satu-satunya mobil yang tolol nekad jalan nyusurin highway A1 pesisir timur UK radius 30 mil di malam badai itu), radio cuman nyiarin cancellation – dengan reporternya yang sok heboh – di hampir semua new year eve di seluruh UK. Gue yang harusnya giliran jadi navigator nemenin Raihaan malah terkantuk-kantuk sesekali bablas, ngiler mangap ngeces dengan posisi kepala mendongak. Jelas acara tahun baru kita udah gagal total gara-gara cuaca busuk yang menghantam seluruh UK kecuali London
















Belum ke Scotland kalau belum ke Edinburgh, ibukota Scotland yang meski kalah besar di banding Glasgow tapi kota tuanya menurut gue yang paling keren di seluruh UK. Edinburgh termasuk kota turis nomor dua setelah London, apa-apa jadi relatif mahal disana karena itu kita milih akomodasi di Glasgow aja yang jaraknya hanya kurang sejaman dari Edinburgh. Scotland adalah bangsa dengan pride yang tinggi, khususnya sejak England menginvasi Scotland tahun 1296 dan sampai 1707 ketika akhirnya Scotland bergabung menjadi bagian dari United Kingdom bersama Wales dan Northern Ireland. Meski begitu mereka tetap bangga dengan sejarah besar mereka, keliatan jelas banget. Edinburgh castle contohnya, kastil sekaligus museum militer sejarah panjang perjuangan mereka. Sebagai ABRI wanna be, jelas Edinburgh castle jadi tujuan utama dan pertama gue.

Edinburgh
castle lokasinya di puncak bukit karang di tengah-tengah kota: anggun, gagah dan serem. Gue yang biasanya kurang tertarik sama berbagai kastil selama di UK (habis hampir semuanya mirip serupa) tapi gak untuk Edinburgh castle. Kastil ini bener-bener kayak yang ada di komik-komik petualangan Johan and Pirlou jaman gue SD (lo yang anak 80an pasti tau komik karangan Peyo ini, itu lho yang ngarang Smurf). Landskapnya yang berlapis-lapis khas benteng buat pertahanan. Yang jelas lokasinya dipuncak bukit karang bener-bener strategis. Di dalam kastil ada banyak bangunan yang sekarang tentu aja udah di alihin jadi museum. Gue ngiler berat ngeliat segala macem pernak-pernik dan sejarah militer Scotland. Heran kenapa di negara maju museum kok bisa menarik dan rame kayak Dufan, beda jauh sama di Indonesia. Keliatan banget mereka menghargai betul jasa-jasa pahlawan mereka (jie jie bahasa gue kayak pak guru Pancasila) dari kondisi yang sangat-sangat well maintenanced. Kadang gue rasa Indonesia dikutuk gak bakalan maju-maju selama masih tetep cuek, gak ngehargain dan gak aware sama segala hal-hal yang berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa kita dulu (jie jie bahasa gue kayak pak guru Pancasila lagi). Di Indonesia museum itu identik dengan tempat yang garing, gak terawat, sepi dan paling mentok cuman bagus buat lokasi foto prewed doang atau gak studi tour-studi tour anak SD yang dipaksakan. Duh, liat aja kalo gue punya anak entar dijamin bakal gue cekokin budaya mencintai museum sedari dini (pesan sponsor: hello, anybody want to raise my baby ? ). Sehari rasanya kurang buat namatin setiap detail kastil ini. Parah, segala sesuatunya rapi teratur, fungsional dan well organised, satu hal kenapa gue suka army things.
















Oya, tepat dibawah bukit
Edinburgh castle ada West Princess St Garden, jalan paling eksis di Edinburgh. Kita datang ke Edinburgh pada waktu yang lumayan tepat meski kehilangan festival-festival yang kebanyakan jatuh pas summer tapi masih ada Hogmanay (istilah new year untuk Scottish) yang berpusat di Princess St ini. Tapi waktu itu masih tanggal 30, sedang party gede-gedean di sepanjang Princess St area baru digelar besoknya. Dari kastil, kita sempetin jalan-jalan di sekitaran Princess St, kebetulan ada pasar malem di tamannya. Sumpah ! tanggal 30 waktu itu cuaca masih cerah abis-abisan, cuman sempet ujan gerimis sedikit pas kita mau cabut ke Glasgow buat check in, suatu hal yang bakal vice versa besoknya. Tapi kita udah exicted buat balik lagi ke Edinburgh besok sore demi New Year Eve, kapan lagi liat festival Hogmanay terbesar di dunia. Ternyata keluar dari Edinburgh buat nyari highway M8 ke Glasgow tanpa GPS susahe pol, ada kali kita sejaman muter-muter lost gak bisa nemuin jalan ke M8. Pertama kita gak bawa GPS, kedua bodohnya juga gak bawa map Edinburgh, ketiga udah malem jadi susah baca direction sign, ke empat ujan aja gitu bikin males. Untung Edinburgh enak kotanya jadi ya kita sekalian nyasar-nyasar sekalian juga liat-liat. Sampe akhirnya kita nemuin juga M8 dan segera ngebut ke Glasgow (kata temen gue, karena gue udah tidur seperti biasa T_T). Akomodasi kita di Glasgow menurut gue adalah yang paling proper kalo gak bisa dibilang mewah. Apartemen dua kamar fully furnished. Kalo lo rajin browsing kadang suka beruntung bisa nemu apartemen-apartemen kosong yang disewain sama pemiliknya (yang tajir) buat traveler dengan harga murah abis. Dibanding youth hostel kami sewaktu di Aberdeen apartemen ini mewah banget, lengkap dengan TV LCD gede, dua bed empuk dan yang jelas lega abis. Nemuin alamat apartemen ini juga butuh perjuangan lagi, karena kita peta buta tanpa GPS dan printed map.
















Besoknya, tanggal 31, kita sengaja bangun pagi mau nyempetin ngabisin seharian di Glasgow sebelum ke
Edinburgh lagi. Kebalikan dari Edinburgh, gue justru kurang suka Glasgow, kotanya agak industrial dan gak menarik sama sekali (subjective opinion). Sampai-sampai kita bingung mau kemana hari itu. Pagi itu udah mulai hujan, kalau bukan karena jam check out yang terbatas gue lebih prefer buat stay di 'apartemen mewah kami’. Kami mutusin buat main ke Glasgow Science Park (sounds weird for old ‘om’ like us went to kiddie park) dan lebih kurang kerjaannya lagi kita malah nonton a Night in the Museum buat ngabisin waktu (pinter abis, jauh-jauh ke Glasgow malah nonton bioskop). Akhirnya sore dateng juga dan kita langsung kembali ke Edinburgh, kali ini lebih mudah karena kita masih hafal jalannya. Tapi cuaca makin kancut, ujan masih aja dan makin malem justru makin deres. Udah kadung basah sampe Edinburgh, kita tetep ngotot buat ke Princess St. Dari parkiran mobil ujannya makin gak lucu, jaket gue mulai basah kebles, anginnya mulai nyolot. Outlet-outlet fastfood makin sesak dan gak ngebolehin dine-in kudu take-away secara banyak yang ngetrik buat berteduh mure meriah. Bodohnya: kita masih kekeuh bertahan di Princes St berharap siapa aja tau ujan mendadak brenti. Tapi yang ada ujan makin deres dan anginnya makin gila. Kalo di kartun-kartun ada adegan orang susah jalan karena ngelawan angin sampe nyaris bisa kedorong kalo posisi badan gak miring ke depan, nah gue bener-bener ngalamin kondisi itu. Baiklah, ujan dan angin yang makin kenceng, perut makin laper dan kita tanpa payung pun mantel aja: jenius pintar abis kau nak.
















Makin lama kita makin realised New year celebration gak mungkin bakalan ada. Cuaca makin nyolot dan genangan air mulai kebentuk dimana-mana. Akhirnya kita putusin dengan berat hati kalau kita juga harus cabut dari Ediburgh, planning kita ngabisin New Year di Edinburgh jadi kita gak booking akomodasi apa pun malam itu dan kita gak mungkin nongkrong ujan-ujanan do nothing nungguin pagi. Plan B, kita cabut ke Leeds malam itu juga, menembus cuaca jelek dan badan lumayan basah kuyup gak pewe abis. Sial sial, berantakan semua, gagal liat party yang termasuk terbesar di UK, gagal ngeliat fireworks di negeri orang secara langsung, gagal liat scotish-scotish mabok masal. Dan kisah selanjutnya adalah prolog postingan di atas tadi…
















Labels:

Friday, November 30, 2007

The Gorgeousless Traveller (Paris : The Only Place on Earth Where Renata Looks So Ordinary)





















Gue tidur pules kayak bayi sepanjang perjalanan dari Amsterdam CS sampai Gare du Nord, tapi tak apalah toh ini perjalanan malam jadi gak akan ada yang bisa diliat juga. Yang jelas space muffin di Amsterdam memberikan gue satu pelajaran berharga : sekali cupu gak usah sok preman deh dep T_T. Di Gare du Nord udah ada temen gue yang menjemput. Ummm benernya sih bukan temen juga karena dia itu adalah kakaknya pacarnya temen gue dan baru kenalan malam itu. Kita bakal numpang beberapa malam di kosan dia di daerah Ecole de Veterinaire, lumayan untuk penghematan beberapa Euro kami. Karena udah tengah malam kita gak mampir kemana-mana lagi, kecuali beli beberapa Donner Kebab buat dinner. Oiya di Paris kebanyakan penjual kebabnya dari Mediteran semacam Yunani dan Turki. Ini berbeda dengan di Manchester yang hampir bisa dipastikan penjualnya orang-orang keturunan Kurdi atau Irak. Donner Kebab mediteran - Shawarma istilah orang Turki dan Gyros bagi orang Yunani - sebenarnya sama aja sarua keneh cuman penyajian yang populer disini sedikit beda. Mereka memakai roti Pitta yang berkantung. Sebenarnya roti Pitta biasa yang digunting bagian ujungnya jadi ada space semacam kantung gitu, lalu daging Kebab dimasukin kedalam kantung tersebut, tidak seperti Donner Kebab di Manchester yang selalu di gulung semacam dari Pitta yang diameternya bisa sampai 30 cm (lo bisa mabok sekali makan Kebab segede gaban ini). Kareana itu gue lebih suka Kebab pocket model beginian, porsinya pas gak terlalu generous.
















Besoknya kami sengaja bangun pagi-pagi dan langsung pergi karena peraturan si ibu kos yang melarang anak kos memberikan tumpangan kecuali membayar 20 Euro permalam. Tapi jadi ada hikmahnya, karena tidak ada yang lebih seru daripada jalan pagi di sebuah kota yang asing buat lo, ngeliat kesibukan orang-orang, behaviour mereka, hal semacam ini adalah favorit gue setiap kali trip. Paris kotanya enak, rindang, gedung-gedungnya artistik di setiap detailnya dan yang jelas cewek cakep bertebaran dimana-mana dengan tipikal yang nyaris sama: muka tirus, tinggi sedengan, mata bagus, bodi langsing tapi gak papan penggilesan karena (mohon maaf nuwun sewu) toketnya cukup lumayan berisi (pernah nonton film dewasa Tarzan X ? nah yang jadi Jane di situ adalah tipikal cewek-cewek Paris hari itu). Gue jadi mahfum kenapa Mariana Renata pindah ke Indonesia karena ternyata semodel Mariana Renata bener-bener nyampah di sini, banyak aja ! Kami memulai raun-raun (Padang : jalan-jalan) dengan Metro pagi itu. Metro itu sebutan underground di Paris, berbeda dengan Tube di London dengan terowonganya yang sempit pas-pasan, terowongan Metro justru boros besar-besar dengan bentuk setengah lingkaran yang sempurna. Sebenarnya gak efisien tapi jadi lebih rapi dan kereta Metro relatif lebih legaan dibanding Tube yang sempit. Ini kota emang Artsy banget, bahkan semua iklan sepanjang lorong-lorong Metro diberi bingkai ala Renaissance. Herannya di setiap stasiun Metro susah kali nemuin eskalator, kebanyakan cuman tangga manual biasa. Mungkin karena itu bodi cewek-cewek perancis oke-oke, mereka terbiasa setiap hari kepaksa excercise naik turun tangga: pinggulnya pada jadi oi ^_^. Selama di dalam Metro muka gue campuran antara mupeng dan piktor ngeliat wanita-wanita karir, cewek-cewek sekolahan pun tante-tante yang berjubelan, sampai-sampai seandainya milih sambil merem pun gue mau. Wangi pula. Ya Tuhan kenapa dunia ini seringkali tidak adil. Dan sepanjang perjalanan gue malah asik berhayal ‘enak’ yang tidak-tidak, mumpung banyak bahan bos.
















Kata orang belum ke
Paris kalau belum ke Eifel, baiklah meskipun gue agak malas tapi anggap aja sebagai syarat. Karena masih pagi, sangat pagi malah jadi kami pun gak perlu bersusah-susah antri (siangnya antrian udah mengular kayak gabungan antrian Turbo Tour ditambah Arung Jeram kalau di Dufan, panjang gil gil). Di sekitar menara Eifel ada puluhan security patroli Keren ! Dasarnya gue emang Army Wanna Be jadi ngiler banget ngeliat rifle GIAT FAMAS G2 mereka, maunya sih foto-foto bareng tapi serem juga dan agak gengsi ntar keliatan kampung (meskipun emang kampung). Dari puncak menara Eifel kita bisa ngeliat sebagian besar kota Paris, jelas terlihat betapa rapinya kota ini lengkap dengan taman kotanya yang gede naujubile diseberang sungai Rhiene yang biru kehijau-hijauan. Jakarta jadi makin keliatan kampung besar, ndeso, rimba tak tertata setiap kali dibandingin dengan kota-kota di Eropa, kota-kota yang manusiawi dimana pejalan kaki adalah raja sedang orang-orang bermercy prioritas kesekian. Dari Eifel kami sengaja niat berjalan kaki buat ke Arc de Triomph, landmark lain kota Paris. Kami menyusuri Trocadero, salah satu daerah elit di Paris sebelum akhirnya sampai di Arc de Triomph, monumen peringatan pahlawan pada perang Napoleon itu. Kami sengaja bakalan jalan kaki terus hari itu, meski tiket Metro kami sudah yang terusan, tentu saja karena jalan kaki bakal bikin kita bisa ngerasain sebenar-benarnya suasana Paris. Dari Arc de Triomph kita menyusuri Champs Elysees, Orchard Road-nya Paris. Ada puluhan kafe yang digelar di trotoarnya yang selebar jalan Rasuna Said tapi rindang banyak pepohonan. Hanya sayang hampir semuanya rame parah karena pas itu emang lagi waktu lunch. Kebiasaan orang Perancis, mereka bisa menghabiskan dua jam hanya untuk lunch jadi bakalan buang waktu kalau kami ngotot nunggu seat kosong. Kami lewat Champs Elysees dalam rangka ke Louvre, museum dimana petunjuk awal di Novel Da Vinci Code. Museum ini gede parah, sehari pun gue rasa gak akan cukup buat khatamin semua sectionnya, karena itu seperti biasa kami cuman jadi banci foto mulai dari depan Piramid Louvre sampe lukisan Monalisa. Keliatan banget turis Asia-nya, kita sama sekali gak concern sama content museum tersebut: dikit-dikit foto dikit-dikit foto, najis ? emang sih. Dari Louvre kita masih keukeuh mau tetep berjalan kaki untuk ke Notre-Dame de Paris, katedral bergaya gothic tersohor itu. Di depan kompleks katedral, di dekat gerbang masuknya ini ada point zero, konon kalo kita nginjek titik itu kita pasti balik lagi ke Paris. Injek dulu ah sambil berdoa semoga lain waktu sama bini kesini >_<.
















Udah makin sore dan masuk Ashar mungkin, sebagai musafir kita gak sholat dari dzuhur karena emang sengaja mau dijama’ sama Ashar sekalian. Karena itu dari St-Michael Notre-Dame kita memutuskan ke Paris Islamic Centre di deket Place Monge, dari Peta itu adalah mesjid yang terdekat. Sebenarnya tempat itu masih bisa ditempuh dengan jalan kaki tapi gempor juga gak kerasa kita udah jalan cukup jauh mulai dari Eifel sampe Notre-Dame. Daerah jajahan Perancis kebanyakan di Afrika Utara, karena itu muslim disini kebanyakan dari Afrika Utara. Berbeda dengan UK yang dipenuhi orang Pakistan dan India, di Paris banyak banget orang Afrika Utara. Lucu deh, tempat sepatunya ada di dalam mesjid jadi di sepanjang dinding ada rak-rak kayu bakal naro sepatu. Efisien apa jorok ya, bau aja tuh sepatu-sepatu beraroma jempol sejajar sama kepala jamaah. Karena saat itu bulan puasa jadi mesjid lumayan penuh banyak orang yang sekalian mau berjamaah Maghrib sekalian nyari Iftar (Jawa : ta’jil). Bagi gue ini adalah indahnya Islam, dimana pun lo sholat, tata cara dan bacaannya selalu nyaris sama, gue bilang nyaris bukan persis. Dan kita selalu nganggep saudara, semakin aneh dan semakin stranger maka semakin lo dianggep sodara (karena kita satu-satunya Asia di mesjid itu), mereka ramahnya bukan main selalu ngeduluin kita pas distribusi Iftar. Kalau di Manchester saat Iftar kita biasanya ngambil makanan sendiri tapi disini gak lho, ada bapak-bapak afrika tua yang bagi-bagiin kurma, roti sampe susu. Dia muter-muter ngider sibuk distribusiin semua makanan itu sendirian. Masalahnya si bapak make tangan langsung aja gitu, duh kan jorok om ! tapi ya udahlah ya, niatnya kan baik, pokoknya bismillah aja. Paris Islamic Centre jadi tempat terakhir kami hari itu karena udah malam jadi kami harus segera balik ke Ecole de Veterinaire, selain kaki udah berasa mau copot mata gue juga udah pegel mupeng ngeliat 'Mariana Renata' di mana-mana.

Labels: