Prof. Amien Rais
Amien Rais dituduh ikut menerima uang DKP sekian ratus juta. Luar biasa, akhirnya ada juga yang bisa disangkakan dari scholar UGM yang satu ini. Saya bukan pendukung Amien Rais atau pun PAN (kecuali kalo Mariana Renata bisa menjadi ketua umum PAN baru saya akan sehidup semati mendukung PAN) karena itu saya mencoba sebisa mungkin untuk netral. Karena pada dasarnya saat ini hampir semua partai Republik Indonesia sama, sami mawon, sarua keneh, podo wae, sontoloyo semua. Hanya saja ada yang menarik dari kisah beliau: betapa kuatnya media bisa membentuk figur dan betapa pelupanya masyarakat dalam mengingat sejarah.
Kenapa media? karena tidak sedikit media (baik lokal pun interlokal) yang memposisikan sosok Amien Rais sebagai sosok yang plin-plan, ambisius, isone mung nyangkem, seorang Sangkuni yang oportunis, mblegedhes. Beliau dicap plin-plan karena pernah mendukung sekaligus menurunkan Gusdur. Dinilai cangkeman ketika menjadi pemimpin MPR and do nothing. Disamakan dengan Sangkuni karena begitu nafsunya ingin menjadi presiden Republik ini. Tidak adil, pemberitaan yang tidak berimbang. Coba, apa yang salah dengan keplin-planan beliau ketika pernah menurunkan setelah menaikan Gusdur? Entah masyarakat kita yang masih tawar atau memang budaya kultus individu yang masih begitu kuatnya. Justru karena peristiwa itu seharusnya Amien Rais bisa kita percaya sebagai pemimpin yang logis dan rasional. Lha iya to, coba renungkan ketika ada orang yang kita dukung ternyata salah dan semakin hari semakin salah, haruskah kita tetap mendukung orang tersebut? tutup mata dan tetap dukung mati orang tersebut? justru mengkultuskan individu itu adalah sesuatu yang primitif, karena tidak peduli sesalah, sekatrok dan setempe apapun akan tetap kita dukung (seperti saya yang tidak peduli meskipun Mariana Renata sudah jadian dengan Nicholas Saputra, ya seperti itulah kultus individu). Bahkan sekelas Rasulullah saja mewanti-wanti untuk tidak dikultuskan. Kalau mau jujur menurunkan Gusdur keputusan yang tepat karena ketika itu semakin hari semakin menjadi-jadi nyentriknya presiden Republik Indonesia ke empat ini, semakin berbahaya untuk kemaslahatan umat. Karena menjadi presiden Negara itu jabatan yang sensitif. Seperti halnya moneter. Tidak bisa seenak perut. Dan Amien Rais justru habis-habisan dianggap mencla-mencle atas sikap yang logis dan rasional itu.
Tidak adil juga ketika beliau dianggap hanya NATO selama menjadi ketua MPR. Mungkin masih banyak masyarakat kita yang buta konsep tata negara dasar: otoritas ketua MPR. Seberapa kuat sih posisi ketua MPR itu? Di sistem pemerintahan kita, jabatan ketua MPR itu bagaikan juara harapan empat ibaratnya lomba tujuhbelas agustusan, juara hiburan untuk anak pak RT agar tetap mendapat piala. Dalam kasus ini yang dihibur sebenarnya bukan beliau melainkan masyarakat ketika itu, mengingat peran beliau sebagai motor awal gerakan reformasi yang akan terasa aneh kalau setelah Soeharto lengser tidak ada peran baru untuk sang motor. Lalu ada apa juga dengan stigma ambisius untuk menjadi presiden?! Apa bedanya dengan kandidat-kandidat lain? sama saja to? Lah di Republik ini kalau mau jadi Presiden ya memang harus ambisius dalam arti jangan berharap bisa tiba-tiba jadi presiden hanya dengan ongkang-ongkang kaki lalu disuruh datang ke Istana Negara diminta menjadi presiden. Yuk mari. Sip. Enak tenan. Memangnya seperti Nicholas Saputra yang dengan mudahnya bisa jadian sama Mariana Renata?! (kalimat yang ditulis pake hati dan penuh keirian). Kalau mau, beliau sebenarnya memiliki kesempatan besar menjadi presiden setelah sukses menggerakan massa untuk menurunkan Soeharto. Ketika itu nama beliau sedang harum-harumnya sebagai salah satu orang terdepan di barisan reformasi, yang benar-benar turun ke jalan. Bukan duduk di rumah lalu wartawan datang. Popularitas jelas ada digenggaman beliau. Dan di Republik berbudaya reality show ini, simpati jauh lebih berguna dibandingkan kerja nyata.
Coba ingat pelan-pelan, adalah susah untuk melepaskan sosok seorang Amien Rais dengan gerakan Reformasi 1998. Dan menjadi super lontong ketika anehnya hampir seluruh aktor-aktor yang ada di pemerintahan saat ini adalah muka-muka lama, muka-muka yang dulu kalo tidak sedang asik menjilat ya sembunyi diam-diam di ketiak orde baru. Mereka semua para (mengaku) pahlawan Reformasi kesiangan. Kemana mereka ketika orde baru masih berkuasa? Jangan lupa, bahkan sudah sejak tahun 1993 ada seorang Amien Rais yang dengan beraninya berkoar-koar tentang perlunya sebuah suksesi kepemimpinan Nasional. Masa-masa ketika semua orang terbius dan terlena karena beranggapan Indonesia berjaya sehingga dianggap Macan ekonomi Asia Tenggara (sekarang juga sih masih Macan tapi Trio Macan, lebih hot). Periode ketika anak-anak SD dicuci otak dengan istilah era lepas landas. Kita semua mabuk dengan ilusi tersebut. Sekarang beliau seolah tercampakan dari rel yang lokomotifnya pernah beliau hela, bahkan saat ini juga dibidik dengan kasus DKP. Tapi Amien Rais ya tetap saja Amien Rais, bukan pengecut yang mencla-mencle dan langsung saja ceplas ceplos mengakui itu semua. Takut karena salah, berani karena benar. Bapak Amien Rais yang terhormat, selamat berjuang (untuk yang kesekian kalinya) membongkar semua rantai topeng-topeng di Republik ini. May force be with you, may Allah be with you.




