Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Sunday, February 11, 2007

Hukum Qisas

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kamu menjalankan hukuman qisas (balasan yang seimbang) dalam perkara orang-orang yang mati dibunuh." (Al-Baqarah :178)


Setelah banjir Djakarta kemarin masih bisakah kita ngeremehin orang2 yang suka gak sopan sama lingkungan, ketika Bohorok dan Pacet luluh lantak dan kita cuman bisa ‘ber-ooo panjang’, ketika banjir di sepanjang Mahakam atau Kutacane dan kita cuman bisa ‘ber-duh kasian yah’. Mulai kepikiran gak kalau orang2 yang suka nyuri duit rakyat, suka nyuri kayu itu bisa jadi lebih kejam dari pada teroris dalam konteks tertentu. Hukuman mati ? nanti dulu, hoi hoi para pejuang HAM pun segera berhamburan, ya ya kita memang selalu asik berpolemik tentang hak hidup adalah hak paling asasi anugrah Tuhan, sementara ‘si yang sedang diperjuangkan’ jelas-jelas sudah mengambil hak asasi manusia lain. Kadang geli juga, HAM adalah hak asasi manusia yang bisa mengalahkan HAM sebagai hak asasi masyarakat : manusia juga tapi dalam bentuk jamak.

Tentu saja gue pasti akan langsung KO seketika kalau diajak berdebat tentang hukuman mati dan HAM, apalah pengetahuan gue yang cuman belajar programming (sedikit) selama kuliah, sama sekali gak ada ngerti2nya tentang hukum. Ummm tapi hukum disini hukum manusia mungkin ya ? Nah itulah anehnya kita manusia seringkali suka ke-pede-an, bikin hukum2 yang sudah jelas2 diperintahkan Tuhan. Bukannya SARA kebetulan gue muslim jadi meski gue buta kitab hukum manusia tapi di Islam ada yang namanya hukum Qisas, kesalahan disengaja yang dikenakan hukuman balas. Yang wajib dikenakan hukum Qisas misalnya : membunuh orang lain dengan sengaja (termasuk dengan banjir bandang pesanan), mencederai orang lain dengan sengaja, menghilangkan anggota badan orang lain dengan sengaja.

Hukum Qisas ini sudah jelas2 ada di al-Quran, dari Allah yang Maha Pencipta Alam Semesta dan Maha Tahu. Tapi manusia dengan otaknya yang cuman seberat 1300 gram dengan pintarnya membatalkan hukum Tuhan ini dengan excuse2 yang tak kalah pintarnya. Sejarah membuktikan hasil pemikiran otak seberat 1300 gram itu ternyata seringkali keliru dan cuman membawa kerusakan di kemudian hari, seperti misalnya :

  1. Penggunaan pestisida, ngenganggu keseimbangan Biologi.
  2. Pupuk buatan, ngerusak struktur tanah ketika dipakai berlebihan.
  3. Pernikahan gay yang direstui (atas nama HAM), salah satu penyebab penyebaran AIDS
  4. Bahan bakar fosil, menimbulkan efek rumah kaca yang makin hebat, pemanasan global.
  5. Pembabatan hutan, bendungan raksasa ternyata berefek juga ke kekacauan iklim global.
  6. Obat kimia, efek radiasi nuklir, bla bla bla bla…too many to mention.
Hukuman mati itu perlu, bukan hanya untuk menghemat maintenance cost penjara2 (kebayang kan kalo ribuan koruptor dipenjarain pada saat yang berbarengan, apalagi umumnya mereka manja2, banyak minta fasilitas kelas apartemen), bukan hanya untuk efek jera, bukan hanya educate, tapi siapa tau dengan hukuman mati bisa “memunahkan gen pembunuh” dari muka bumi supaya tidak berkembang biak. Mungkin ada kalanya para pejuang HAM saat ini merasakan bagaimana rasanya anak atau isterinya diperkosa beramai-ramai kemudian dibunuh, dimutilasi, atau bapaknya kesapu banjir banding, atau cucunya jadi kriminal karena ngangggur ketika duit rakyat yang triliyunan dikorupsi untuk bisa memahami perlunya hukuman mati.


Sumber : Dr. Akmal Hanafi, SpOG dan www.al-azim.com


Labels:

12 Comments:

Anonymous cta said...

saya sebagai manusia selalu beranggapan bahwa nyawa itu hak Tuhan untuk mencabut. soalnya suka ga tega ngeliat makhluk yang tadinya hidup lalu dimatikan. saya ga bisa bayangin kalo itu saya..

meskipun memang geram ngeliat orang2 biadab itu.. waktu itu aja pernah mobilku dicongkel, tapi pencongkelnya ketangkep dan bikin saya jadi berurusan sama polisi. ngeliat itu aja gedek banget rasanya pengen ngebunuh.. apalagi kalo hak saya yang lain yang dilanggar.. ggrrrrr..

jd pengen bunuh orang nih.. ahahahaha..

8:47 PM  
Anonymous the i.d.E.p said...

Kalau begitu kondisinya lalu bagaimanakah cara Tuhan bisa menyabut nyawa orang ? Ada tangan raksasa keluar dari langit kayak legenda Excalibur atau melalui 'media' lain ?

Congkel mobil mah gak biadab ta. Siapa tau dulu dia itu adalah buruh pabrik atau tukang bakso atau supir taxi tapi mendadak jobless gara2 banjir, pabriknya tutup, atau pasarnya dibakar.

Orang yang biadab itu bisa jadi orang yang naik S-Class hasil boleh dapet dari jual pasir laut, jual HPH, ngotot gak mau balikin dana rapelan, exploit pasien, abcd cape d...

3:07 AM  
Blogger wIdYa said...

bukannya Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun?
tapi rampok di pasar mana sempet dapet kesempatan kedua kalo mati dihajar massa?

mungkin ini ya sebabnya kita ga bisa satuin konsep Ketuhanan/Hukum Tuhan dan Hukum Positif.

6:34 PM  
Blogger ~dhia~ said...

da.. lama kelamaan postingan uda tambah berat .. *tertunduk lesu dan ngeloyor pergi*

7:40 PM  
Anonymous Anonymous said...

Bukannya gitu dhi,
Banjir Djakarta kemarin ini bener2 bikin 3 posting dalam seminggu, bener2 gemes,
the people n the gov, both...

11:08 PM  
Anonymous daru said...

wahai sobat,
sekeras apapun dirimu menyalak
(I am soryy for using this word)
telinga kami sudah tuli

sekeras apapun dirimu menggigit
kaki kami sudah diimunisasi

tapi aku hargai gonggonganmu
karena aku pun tak seberani dirimu
bahkan untuk sekedar menggonggong

kau tahu...
aku menggonggong di sini berarti kematian menantiku

mungkin hanya Tuhan yang bisa membereska semua ini

mungkin kejadian Atjeh
tak mustahil terulang kembali

Bukan karena Allah maha pemurka
tapi karena Dia sungguh maha penyayang

jadi sobat,
sungguh kuminta padamu...
teruskan gonggonganmu

Allah pasti mendengar

note:
buat widya yang baik, kenapa rampok di pasar mati dihajar sedangkan rampok di Parlemen dibiarkan? itu sama saja dengan menanyakan, Kenapa Nabi Muhammad pernah hampir terbunuh pada perang Uhud.

5:37 AM  
Anonymous Anonymous said...

Aku ada ide ru, kalau memang nyawa Tuhan yang berhak nyabut. Hukuman mati suruh minum racun aja, dari 10 gelas ada 9 yang beracun, diacak. Suruh dia mlih which glass, kalau memang 'takdir' dan pertanda masih ada second chance (tentu aja bukan dengan 'hanya' penjara sekadarnya) pasti dia akan minum gelas yang gak beracun.

Masih bingung definisi Nyawa Dicabut Tuhan, how ? by a huge bling bling hand comes out from the clouds slapping ur face ?

11:51 AM  
Anonymous Anonymous said...

thanks, tulisannya makin berisi aja. saya pribadi setuju hukuman mati.

harus diingat, maaf, yg kamu bilang biang kerok dan perlu dihukum mati itu mungkin jadi org-org terdekat, bisa ayah, ibu, saudara, atau temen baik kamu sendiri. koruptor dan klepto itu bukan cuma org pemerintahan kan?

cuma ngingetin aja, krn memang masih amat sulit untuk bersih di indonesia saat ini. mudah-mudahan generasi berikutnya bisa lebih baik. amiin..

5:09 AM  
Blogger the i.d.E.p said...

Setuju mas/mbak Anonymous, justru saya kepikiran itu karena 'notice' dari orang2 terdekat saya selama di Jakarta.

Saya juga masih sampah kok, terlalu pengecut untuk bawel ngingetin orang yang lebih tua yang saya hormati ketika mereka nyetir2 'sakepenakudeledewe', buang sampah dari mobil, motong listrik PLN dsb.

Mengutip tulisan Ariel Heryanto di Kompas, definisi publik sudah hilang di Indonesia. Kita bisa jadi kakek yang saleh, ayah yang baik, suami yang gentle selama masih berada di rumah, selama masih dibalik border privacy kita (try it, we can notice it obviously). Ketika keluar maka kita gak akan pernah mau peduli, yang penting mobil gue rapi, yang penting gue paling duluan nyampe rumah, dsb dsb...

5:21 AM  
Anonymous pardugem said...

coba baca ini: being touched.

bisa jadi dia gak punya agama, tapi mempraktekkan yg namanya ikhlas dan istiqamah.

mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran, bukan cuma soal sampah, tapi juga usaha mengobati penyakit-penyakit kita itu.

7:18 PM  
Anonymous pardugem said...

sori, link-nya ini:
http://candra-d.blogspot.com/2007/02/being-touched.html

7:22 PM  
Anonymous Anonymous said...

Mas Pardugem, terima kasih linknya,
jadi malu. Moga aja saya bisa jadi Arakawa bukan 'sampah yang bawel' ngecipris but do nothing.

Terima kasih !

4:45 AM  

Post a Comment

<< Home