Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Monday, April 14, 2008

TransJakarta Matamu !
















Berawal dari ide luhur yang tampak cemerlang, program Busway makin hari semakin menunjukan kearah kegagalan. Busway sekarang adalah nama lain dari Metromini tapi dengan sopir jas berdasi, ada penjaga di pintu yang bisa otomatis terbuku-tutup sendiri, halte dan jalur khusus (yang cilokonya sering dimasukin sama kendaraan pribadi egois lain dan benar-benar mematikan sirkulasi Busway sebagai kendaran bebas hambatan dengan suksesnya). Kondisi angkutan umum yang manusiawi, aman dan nyaman tidak pernah tercipta. Di Harmoni Central Busway (believe me, konsisi tempat ini tidak secakep namanya) antrian udah kayak mau ngelempar jumroh, jadi jangan tanya lagi bagaimana kondisi di dalam Busway-nya. Hikmah satu-satunya dari kondisi sarden kaleng itu ketika di depan lo adalah gadis cantik wangi bermuka lucu : ya Tuhan gue harus mati-matian menahan ekspresi muka supaya gak norak, habis digencet-gencet aja gitu. Lumayan enak juga. Dan sebaliknya, sial banget ketika didepan lo adalah mas-mas berambut gondes (gondrong ndeso: potongan depan pendek tapi panjang kebelakang, biasanya rambut agak keriting) dengan lengan basah ketek dan bau yang lumayan berbahaya untuk menjaga kesadaran lo.


Kondisi armada Busway semakin mendekati kejadian Patas AC, udahlah buluk, AC-nya berubah jadi kipas angin, kotor berdebu minyak oli, atap juga peot-peot. Weits apalagi halte-nya, bangunan berdesain manis minimalis itu udah kayak kaleng krupuk, sampah dimana-mana, kotor, jorok dan oya, juga ada hiasan TV LCD di sana (hiasan loh, bukan LCD asli, pokoknya oknum procurement sudah senang sekali bisa menangin tender pengadaan). Padahal proyek ini baru berapa tahun tapi kondisi fasilitas dan perlengkapannya sudah sangat amat menyedihkan banget sekali pisan (lebay). Gue berani taruhan menyanyikan hit-hit Vagetoz di kolam bundaran HI kalau para bos-bos Pemda DKI tidak pernah sekalipun memanfaatkan Busway untuk berangkat ke kantor. Apalagi si Yos, yang sekarang bercita-cita jadi presiden itu (keponakan gue juga bercita-cita yang sama: Ihsan mau jadi apa Ihsan ? Jadi presiden om !), pasti juga sama sekali belum pernah merasakan dan menyaksikan antrian horor di halte-halte Busway. Orang-orang yang naik Busway bukanlah yang migrasi dari mobil-mobil pribadi, melainkan orang-orang yang biasa naik Patas, Metromini, Mikrolet, Kopaja. Mobil pribadi gak akan pernah berkurang seperti yang diharapkan, mereka sudah kadung kapok. Dengan penuh rasa hormat dan dongkol : proyek Busway jelas sudah kehilangan momentum.

Labels:

7 Comments:

Blogger RinaFitri said...

sumpah ya dep!!
hari itu ga bisa gue lupakan..

selasa, 8 april 2008

dengan bangga, aku berjalan melewati jembatan busway dukuh atas!! dan ternyata.. deng deng!!

seperti gambar yang tampak pada postingan lo..

gue balik badan, dan berfikir.. gila ya jauh juga kalo mesti balik ke jalan sebelumnya..

dan gue pikir, taksi jauh lebih beradab!!!!!!!

8:46 AM  
Anonymous Ollie said...

Infrastruktur kita harus buru-buru dibenahi. Karena sarana transportasi modern kita sama sekali ngga ada. Malu de sama tetangga >.<

Busway dengan satu koridor masih bagus sih meskipun pointless. Tapi busway dengan banyak koridor... ya... totally a mess!

10:49 AM  
Anonymous imel said...

ya ampun!....pdhl gw dan temen2 di kantor baru aja berjanji --> kalo halte busway di depan kantor kita ini kelar. kita akan merayakan hari bebas injak kopling sedunia..
bener2 pgn bisa naik bis lagi spt dulu,dah lama ga dipalakin..kangen juga
stress liat poto lo ya tapinya huhuhu

eh mendingan jg naek ojek kali dep

12:23 PM  
Blogger Prabowo said...

Iya Dep, sampeyan bener. Busway sudah salah sasaran. Penumpangnya adalah migrasi dari penumpang bus2 reguler (koyo aku) dan bukan dari mobil pribadi seperti harapan si Suti.
Lha piye hayo.... aku udah bandingin. Jadi ojek 3-in-1 dengan nebeng mobil si Leni jauh lebih nyaman & cepet daripada antri desak2an di halte busway :D

11:10 PM  
Anonymous -phir- said...

hmmhh... busway...sebagai non-pengguna busway,, mungkin gak pas gue komen panjang lebar... tapi gue mau liat dari perspektif "policy maker" and citizen of Jakarta...

Objective: transportasi yang nyaman, yang naik mobil jadi shifting ke public transportation yang in the end mengurangi kemacetan dan minimize konsumsi BBM jakarta.

Kalo dilihat sekarang,, pastinya banyak banget minus-nya... tapi kita kan harus liat in the long term jadi gimana...

jadi setau gue (di ekonomi regional) model mass transportation tu ada beberapa (correct me if i'm wrong), i.e busway, monorail, waterway, subway... ini semua ada di blue print pembangunan jakarta... cuma kan pembangunannya pasti harus bertahap dooonkk.

buat busway konsep idealnya,,, jalanan dipaksa jadi macet so using ur own cars to go to the office is not efficient anymore... orang "harusnya" lebih enjoy naik busway...

tapi, just like the late Prof Sadli said, "the devils are in the details"... jumlah armada busway jauh di bawah kebutuhan,,, trus menurut gue yang lebih vital lagi,, harusnya busway itu cater rute panjang, dari sub urban ke urban atau dari kawasan perumahan ke daerah perkantoran... contohnya dari cibubur - kota, bekasi - kota,,etc

yang bawa mobil kan kebanyakan yang tinggal di daerah sub urban (pemukiman) kan?? kalo bisa cater those needs,, pastinya pada naik busway donk, gak bawa mobil lagi...

jadi,, menurut gue,, busway tu bukan salah sasaran,, tapi missing in action... harus ada review ulang... cuma kayaknya pembuat kebijakan di jakarta sibuk ngisi kantong masing2,,, jadi gak sempet ngurusin "kerjaan" mereka yang sebenarnya...

Emphasizing: Busway, dkk itu long term project... gak mungkin bisa secara instan nyelesein masalah kemacetan jakarta... yang paling penting,,, setiap KEBIJAKAN harus diREVIEW... gak semua kebijakan runs exactly the way it was planned kan??! Periodically review is a must...

***just a thought***

12:09 AM  
Blogger om idep said...

Masalahnya fir, gue gak ngeliat dari kacamata akademisi atau pengamat tapi pure dari kacamata seorang pengguna busway sejak tahun kedua operasinya. Bagaimana shelter-shelter semakin kumuh, kondisi bus-bus semakin busuk. Kita tidak sedang berbicara bagaimana menambah armada sehingga mencukupi debit penumpang. Kita tidak sedang berbicara review plan mechanism, analisa ini dan review itu. Semua hal itu tidak kasat mata kok, semuanya sangat jelas kalau semakin lama sumber daya Busway semakin butut.

Kenapa ? karena yang mereview itu cuman bisa berhitung-hitung di atas kertas dengan teori-teori sophisticated mereka. Sesekali mereka harus ngerasain naik Busway tepat rush hour, sekali saja. Bukan hanya sekali pada saat peresmian belaka. Undangan ini khususnya untuk si Yos sama si Foke yang pintar itu.

Gue yakin kok setelah mereka ngerasain betapa manusiawinya kondisi busway saat ini, maka semua buku, studi banding, teori-teori di meja mereka akan tampak kayak kertas bekas bungkus gorengan. Useless.

Concern gue nulis ini, jangan sampai Busway mengikuti sejarah PATAS AC, maksud hati mau jadi premium bus yang nyaman dan aman tapi berakhir butut dan horor juga. Salah sasaran karena in reality gak ada satu pun (well atau hanya sedikit) pengemudi mobil pribadi yang beralih ke Busway (lepas dari teori transport mass apapun yang menjadi dasar tujuan Busway dicanangkan, yang naik busway common people kayak gue it's the fact) , kehilangan momentum karena sebenarnya mereka antusias menyambut Busway (tapi kuat mencoba hanya untuk beberapa hari saja) karena naik Busway antriannya benar-benar gila, mepet dempet, panjang gerah dan tidak membuat mereka lebih cepat sampai ke rumah. Akhirnya mereka apatis sama Busway dan kapok untuk mencoba lagi meskipun nanti Busway udah dibenahi (kecuali diadakan kampanye marketing besar-besaran yang menghabiskan dana untuk educate masyarakat seperti di awal lagi)

Kebiasaan pembuat kebijakan publik di negeri ini hanyalah jago sebatas teori, studi banding, review, analisa. Sebenarnya suruh saja mereka seminggu ngantor naik kendaraan umum. Nangis nangis deh lo semua. Daripada cuman free car day seperti minggu kemarin, lebih baik kita canangkan free private car for government executives. Berani ?

2:05 AM  
Anonymous cungkringkecil said...

kirain cuma ada di tipi2, maklum saya wong ndeso

ternyata emang penuh banget ya om!
busway ga beda jauh sama kereta ekonomi jurusan bekasi-kota yang pernah saya tumpangi 15 tahun yang lalu, jauh lebih baik malah biarpun saat itu bareng bebek&kambing...hehehehe

tapi kalo dibanding sama antrian minyak tanah sekarang ini mendingan mana om?

5:39 AM  

Post a Comment

<< Home