Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Monday, November 12, 2007

'P' untuk Perspektif

Perspektif. Semua yang ada di dunia ini hanyalah permasalahan perspektif. Hal yang benar bisa jadi salah, hal yang salah bisa jadi benar, ketika gak ada yang mau ngalah, gak ada yang mau salah mungkin ada baiknya kita tukeran perspektif dalam setiap penyelesain masalah.


Misal untuk kasus Malaysia yang sering diplesetin Malingsia akhir-akhir ini. Ketika kita kaget tiba-tiba aja Rendang udah dipatenin disana sebenarnya itu gak lebih dari rasa mangkel gondok kita yang teledor gak aware sama hal-hal begituan. Coba kalo perspektifnya diganti, posisikan kita sebagai orang Malaysia. Karena di Negeri Sembilan Malaysia, sejak abad ke 14 orang-orang Minang dari Payakumbuh dan Tanah Datar sudah merantau kesana, menikah dengan penduduk lokal melebur jadi satu (di sejarah Minang disebut Rantau Nan Sambilan). Bahkan aksen melayu mereka beda, kental terasa cengkok Minangnya. Karena itu mereka juga udah makan Rendang, Gajebo, Lamang, Sampadeh dkk selama 7 abad, lalu salah gitu kalau mereka lalu mematenkan Rendang ?

Atau ketika gonjang-ganjing Busway yang mau lewat Metro Pondok Indah yang super elite itu, yang jalannya diaku adalah milik warga (gila orang tajir kok belagunya gak tanggung-tanggung ya). Para warga Pondok Indah mati-matian beralasan AMDAL untuk menolak pembangunan jalur Busway, malah ada yang ekstrim bilang mereka gak perlu Busway toh warga Pondok Indah udah punya mobil semua. Coba kalo diposisikan dari perspektif orang-orang yang ngandalin Busway yang tinggalnya di Lebak Bulus, Ciputat dan sekitarnya. Rakyat kecil itu memang gak tinggal di Pondok Indah tapi mereka sangat membutuhkan akses jalan itu. Lain lagi dengan operasi Yustisi, orang-orang dari daerah dilarang datang ke ibukota negaranya sendiri. Kalo perspektifnya dibalik, mereka yang di daerah itu udah stuck banget, jadi petani harga gabah suka secara ajain selalu anjlok setiap panen raya, belum lagi banjir, harga pupuk mahal. Mau jadi entrepreneur podo wae, pungli sana-sini hanya untuk ijin, operasional, gak ada yang bener. Belum lagi semuanya ngumpul di Jakarta, coba hitung berapa banyak kantor pusat perusahaan ada di luar Jakarta ?

Eh eh tapi bertukar perspektif bukan hanya untuk masalah-masalah serius barusan aja lho ya. Misal kalo lo abis di dump sama cewek gak usah esmosi terus nyalahin cewek lo tidak setia tidak sehidup semati, tapi janji tinggal janji (Betharia Sonata, 1986) tidak komitmen dan segala macam sedu sedan itu (Chairil Anwar, 1947), coba lo ganti perspektif-nya dari cewek lo. Misal ternyata ada cowok lain yang lebih OK, atau masa depan lo ternyata suram, atau gaya lo makin hari makin gak asik dan membosankan jadi wajar aja kan lo di dump ? pasti lo akan lebih legowo kalo lo bisa memposisikan diri lo dari perspektif cewek yang ngedump elo. Bertukar perspektif bisa jadi merupakan awalan yang baik untuk belajar ilmu ikhlas (curcol)

Labels:

3 Comments:

Blogger hetty said...

Wah...baru putus ni kayaknya?
Anyway..ide lo buat tukeran perspektif itu boleh juga dep...
Tapi kayaknya musti butuh ilmu ikhlas untuk menerapkannya.
I wish i could be that way... hikzz..

12:58 AM  
Blogger the i.d.E.p said...

Wew ?! gue ?! putus ?! lah kapan jadiannya nek ?! gak kok gak, itu cuman sample acak biar gak terlalu serius...

1:03 AM  
Blogger rossyy:) said...

dep lu lg cari kerja ya? haha gue sotoy baca komen di wall facebook lo. dimana sih lo sekrg?

5:33 AM  

Post a Comment

<< Home