Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Tuesday, October 09, 2007

Busway, Buswae, Busajah, Busbae

Hari ketiga di Jakarta, artinya gue ketemu lagi sama macetnya yang semakin setan (yang udah setahun gue kangenin). Dari Kelapa Gading ke Melawai aja butuh waktu nyaris tiga jam. Pembangunan jalur baru busway adalah penyebabnya, hampir semua orang yang punya mobil pribadi sekarang musuhan sama Busway. Ketidaknyamanan ini makin terasa parah karena sebulan terakhir kemarin gue Eurotrip jadi bisa ngerasain berbagai jenis mass transport manusiawi dari beberapa negara maju. Ok ok, kita gak bisa nyamain negara segedeTangerang dan jumah penduduk sekecamatan Sukamandi dengan Indonesia yang super gede dan multikultur. Tapi jujur aja, gak ada yang salah dalam inisiasi proyek busway selain egoisme pemerintah yang banci tampil yang mau dikenang dikombinasikan dengan para pengendara mobil pribadi yang terlalu manja buat naik transportasi umum.

Dari beberapa alternatif Mass Transport System mulai dari Monorail, Subway dan menurut gue Busway adalah soluusi yang paling masuk akal untuk Jakarta. Monorail itu mahal sekali dan pembangunan Monorail butuh pengorbanan macet yang jauh lebih parah dibanding Busway. Jelas ngecor jalan Busway jauh lebih cepat dibanding pembangunan pondasi ditengah jalan untuk pemancangan tiang-tiang. Kalau Subway so obvious alasannya, selama Jakarta belum bisa menyelesaikan masalah banjir maka Subway cuman bakal jadi terowongan yang bakal diisi air semacam Seaworld di Ancol setiap kali musim Hujan. Keputusan pembangunan Busway sudah tepat tapi blunder Pemda DKI (Hi Yos !) adalah ketika begitu nafsunya membangun banyak jalur Busway sekaligus tanpa memperhitungkan estimasi jumlah penumpang, frekuensi kedatangan dan kemampuan armada, titik-titik bottleneck (seperti lampu merah Harmoni yang bisa nahan 15 Busway sekaligus karena rotasi Lampu Merah yang aneh). Kenapa mereka harus ‘ngejar setoran’ dengan membangun banyak jalur ketika belum yakin (atau belum itung2an lebih tepatnya) bisa menyuplai armada Busway secara cukup dan manusiawi (asal tau aja ngantri Busway dalam kondisi ikan sarden yang bisa sejaman adalah sebuah pengalaman yang Jancuk Bajingan Matane Asu Wedhus). Karena Busway akan berfungsi efektif ketika dia bisa mendorong orang untuk migrasi dari mobil pribadi ke Busway dan sebaliknya, akan sia-sia kalau dia hanya bisa memindahkan orang dari Bus Patas, Metromini ke Busway (seperti saya misalnya ^_^). Karena hal yang terakhir artinya tidak mengurangi kepadatan mobil sama sekali sementara luas jalan sudah terlanjur semakin sempit (karena dipakai jalur Busyway), jadi gak heran kalau macet semakin parah. Tapi kita juga gak bisa nyalahin orang-orang yang gak mau pindah, karena saat ini untuk naik Busway pun butuh berjam-jam supaya bisa terangkut, jadi sama aja. Pola pikirnya begini: mendingan gue duduk ngadem macet-macet di mobil meski dengan resiko biji gede sebelah dari pada jadi ikan sarden panas-panasan nunggu Busway, toh ujung-ujungnya nyampenya sama aja.

Sejatinya gak usah terlalu napsu membangun banyak jalur Busway hanya demi nama harum karena target utama di stage awal adalah bagaimana mendidik gaya transportasi penduduk Jakarta dengan membuat image Busway itu nyaman dan ok. Katakan saja baru ada dua jalur tapi dengan armada yang cukup sehingga penumpang paling lama hanya akan menunggu 5 menit, itu udah bisa jadi campaign yang bagus untuk encourage orang naik Busway. Jadi ketika ada temen gue yang mengeluh betapa bodohnya Pemda DKI karena membuat jalur busway di jalan-jalan kecil sehingga cuman mengecil jadi satu jalur jelas itu adalah pikiran egois karena secara teori bahkan mengambil seluruh badan jalan pun sah-sah saja asal untuk dijadikan jalur Mass Transport. Bagaimana mungkin satu mobil dengan satu penumpang harus dimenangkan haknya dibandingkan puluhan penumpang yang mau rela ‘belajar’ make transportasi umum? Masalah lain adalah kultur, rakyat kita justru jauh lebih manja dibanding masyarakat dari Negara maju, kita terlalu malas dan egois untuk make transportasi umum tapi menuntut gak ada macet dalam sekejap. Kalau pun nanti Pemda DKI akhirnya bisa memenuhi debit armada Busway menjadi normal tapi kalau saja mayoritas masih malas berpindah dari mobil pribadi maka proyek Busway adalah Megaproyek konyol sia-sia terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Bukan hanya direct cost yang udah kebuang tapi juga indirect cost karena ketika proyek mulai dikerjakan yang bikin macet adalah suatu sacrifice, ketika banyaknya waktu yang hilang baik sosial mau pun bisnis. Perbedaan kota maju dengan kota dodol bukan di banyaknya merk mobil mahal dan CBU yang bersilewaran di jalan rayanya tapi di kultur keegoisan masyarakatnya untuk belajar memakai Mass Transport, sayangnya dalam kasus Busway ini susah karena untuk yang kesekian kali lagi-lagi proyek strategis dikerjakan layaknya bermain Lego. Jadi siapa juga yang minat mau pindah ke Busway dengan kondisi seperti sekarang?

Labels:

7 Comments:

Blogger ~dhia~ said...

wahh.. udah di jkt lagi yak???
Si uda mah gituuuu, berangkat pamit datang tak bilang2 :p

6:12 PM  
Anonymous Ollie said...

Salah satu deskripsi dan bahasan terbaik atas masalah to busway or not to busway

2:58 AM  
Blogger Oki Purwana said...

Bro, gw usulin "Bajajway". Kenapa? Karena jalur busway dikomplen kegedean sehingga ngambil jatah kendaraan laen. Nah "Bajajway" ini bentuk kendaraannya kaya bus gandengan tapi ukuran lebarnya ga segede busway sekarang...segede bajaj doang. Terserah apa kendaraannya, atur aja...mo kaya minibus angkot kek, ato bajaj beneran sekalian.

6:13 PM  
Anonymous Anonymous said...

Bwahahahahaha, bajaway, briliant ! cukul 1.5 m ya bang. Dhia, saya tidak sombong tapi memang susah OL di Jakarta dan cuman tiga hari abis itu langsung ke Jogja ;-)

10:20 PM  
Blogger rossyy:) said...

heh, curang banget lu pulang ke jogja huaaaaaaa mau jugaaaa..
lagi makan gudeg banyak2 ya?

2:36 PM  
Blogger the i.d.E.p said...

Ayo ayo ros ke Jogja, nanti saya bawa ke warign Soto ajaib, makanan berkuah terenak sedunia, dijamin ! hahahahahaha...

2:44 AM  
Anonymous Anonymous said...

Genial brief and this post helped me alot in my college assignement. Say thank you you for your information.

1:50 PM  

Post a Comment

<< Home