Scraps In Scraps Out

This is my Blog. There are many like it but this one is mine. My Blog is my best friend. It is my life. I must master it as I must master my life. Without me my Blog is useless. Without my Blog, I am useless (Jarhead)

Monday, June 16, 2008

Hey Urip !

Beginilah logika ajaib di negeri Pancasila ini.

Tahukah di keseharian kita, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi semuanya dikenakan pajak ? coba saja : bangun tidur, e'ek, sarapan indomi, ngerokok djarum super, berangkat naik bis, makan siang di KFC, ngerokok garpit, pulang naik mikrolet, ngopi starbucks, diner kencan di bistro, sampe akhirnya tidur lagi. Pajak selalu kita bayar mulai dari yang gak kita sadari karena dimasukan ke komponen harga sampai yang terang-terangan menuliskan PPN 10%. Pajak-pajak itu semua sejatinya akan dikembalikan kepada rakyat atas nama dana pembangunan. Seperti di negara-negara maju dimana sekolah bisa murah, internet bisa murah, transportasi bisa murah, makmur bersama ceritanya. Tapi disini, duit pajak itu justru dikasih ke pengusaha-pengusaha kelas kakap yang bisnisnya hancur lebur ketika dilanda krisis 1998 lalu, bisnis rapuh yang mereka bangun cukup melalui perkoncoan yang baik dengan cendana ternyata tidak tahan gempur, tidak imun karena semuanya dibangun berdasarkan pertemanan saja minus kompetisi.

Lalu duit pajak salah satunya tadi dibungkus dengan nama dana BLBI. Mblegedhes memang, duit rakyat yang dipakai untuk membantu orang yang sodara bukan, tetangga bukan, teman bukan, kenal juga gak, lalu kenapa ketika bisnis mereka hancur kita semua yang harus menanggung ?! Belum selesai disini, duit BLBI yang sedianya harus dimanfaatkan untuk menjaga bisnis mereka kembali sehat malah habis disikat. Gede ora to ? jangan sedih, jumlahnya lumayanlah sekitar 30an triliyun, baca : 30ribuan milyar. Belum selesai sampai situ, lalu entah atas dasar logika hukum apa dikeluarkanlah kebijaksaan Release and Discharge. Maaf om, maaf tante, selesai sudah, rampung, mereka diampuni. Semudah itu saja.

Belakangan ketahuan semua keanehan tadi memang tidak memakai logika hukum melainkan logika kepeng. Si Urip ketangkap basah lalu asal bunyi bilang bisnis permata, trus terungkap bincang-bincang akrab skenario di antara jaksa-jaksa agung muda, trus juga OC Kaligis yang plendas-plendus berargumen aneh-aneh, Artalyta yang tetap modis tampil ringan enteng tanpa beban di setiap persidangan karena begitu yakinnya everything is gonna be alright. Jadi makin seru. Kadang saya kasihan sama mereka semua : capek jumpalitan, ngibul sana-sini, foto dipasang di headline-headline koran, di bui, sedangkan si penikmat uang ribuan milyar tadi justru enak-enakan di Singapore, yang jaraknya gak lebih sejam perjalanan udara dari Jakarta. Lah iyo mesaake, mereka hanya berebut enam milyar, apalah arti enam milyar dibanding ribuan milyar.

Kalau sudah begitu siapa yang bodoh, pandir dan dungu ? si Urip ? si Jaksa Agung Muda ? si Obligor ? atau justru kita ? kita rakyat yang masih saja tetap percaya dengan hukum di negeri penuh demokratis ini.

Labels:

6 Comments:

Blogger agus van jogja said...

Kula nuwun mas idep...
Tulisane luar biasa, pantes wae tini memuji2mu. Analisa dan penceritaannya mengalir lancar. Pokoke enak dibaca lah. Wah, aku harus belajar banyak nih darimu.
Btw, aku Agus, kancamu ning SMA 3 mbiyen.
Matur nuwun

nb: desain blog-mu apik, boleh belajar ???

10:54 PM  
Blogger Ghulam said...

Sing kebangeten yo kita-kita ini ... ngerti dikibuli kok isih tetep wae mbayar pajek huehuehue ...
Paradoks of Indonesia .. ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo ... kuwi lak jare simbah! Saiki jamane wes bedo Le ... bubar simbah sedo ... anane mung cakar-cakaran rebutan kuwoso, arto lan bondo, kere bangke, ora tentrem tur ora raharjo ...
Om, sampeyan maju presiden wae po?
RI = Republik Idep ... yang suka-ria-jenaka ...
Piye Bosss?
Saluuuutt ...

9:42 AM  
Blogger Ghulam said...

This comment has been removed by the author.

9:42 AM  
Blogger koPREM said...

Walah.. suwe men ra posting om! Wes ngenteni meh sesasi!
Pancen bener.. enake Samsul Nursalim dkk digantung wae po?

6:55 PM  
Blogger om idep said...

@agus : masih ingatlah gus, kita sempat ketemu kan di jogja, neng mall apa gramed yo ? wah neng Bandung to koe saiki ? lucky bastard....

@ghullam : jadi presiden ? koper presiden kali (bagi anda yang hidup di tahun 80an pasti tahu tas koper merk president). Isih neng US mas ? kapan mulih ? opo ora arep mulih ? jangan sampe yo, this country need people like you.

@koprem : mbuh iki mas, akeh ide tapi lagi stuck neng nulis, atau sudah terlalu banyak kejadian mblegedhes akhir2 ini pada saat yang bersamaan sampai speechless. dari FPI, malut, Max Moein (oiya nama band saya selanjutnya adalah The Max Moein Ngaku Foto Bersama Pecun Di Kolam Renang Yang Padahal Jelas Sedang Di Kamar Hotel Band, wangun ra ?) tapi gak ada yang lebih keterlaluan dibanding bincang2 akrab para jaksa agung muda itu...

9:00 PM  
Anonymous Ahan said...

Jaksa itu memang jagonya berkelit dg tutur kata. Tetapi dg analisa sederhana jelas terlihat ada sindikat di Kejaksaan Agung. Artalyta posisinya bos terlihat dg cara ngomongnya seperti bos geng yg memberi selamat kepada anak buahnya yg sudah menyelesaikan tugas dg baik. Good, verygood Kemas ! Tugas saya sudah selesai bos Artalyta. Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-2 kita ? tanya si bos pada si Untung. Kemudian ada skenario sibos mau ditangkap dg alasan mulia penyogok kok nggak ditangkap, tidak adil (?). Padahal ini strategi Antasari membiarkan dulu Arlyta untuk mengetahui kemana dia mencari perlindungan dg menyadap teleponnya, dan ini berhasil ternyata dia menghubungi Untung. Bravo Antasari, terkutuklah engkau sindikat jaksa (oknum) yg membuat nama Indonesia jadi cibiran di dunia internasional. Bongkar terus sindikat ini, jebloskan ke penjara , sita hartanya.

12:54 AM  

Post a Comment

<< Home